27 December 2012

The Power of Affirmations

"Afirmasi (Inggris : Affirmation) atau dalam bahasa Indonesia diartikan dengan penegasan, penetapan yang positif, atau peneguhan. Afirmasi selayaknya doa, harapan atau cita-cita, hanya lebih ter-struktur dibandingkan dan lebih spesifik, menggambarkan situasi yang diinginkan, yang diulang berkali-kali, untuk mengesankan pikiran bawah sadar dan memicu ke dalam tindakan positif."

Bagaimana saya bisa lupa jika hal tersebut pernah begitu melekat atas dasar rasa percaya akan hal-hal kecil yang begitu istimewa, dan bukankah saya terlahir dengan pribadi kuat, jadi mengapa harus malu karena kelemahan yang disebabkan pergeseran Mind-set saat ego mengalami transisi ke satu bentuk yang abstrak.
Saya masih tetap saya.
Sepertinya baru kemarin saya mempublikasikan sepotong bentuk afirmasi tahunan disini, dan bukan tanpa terasa akhir kembali datang memaparkan sepuluh besar poin harapan juga mimpi yang sedikit banyak berubah bentuk namun hampir keseluruhan terpenuhi, dengan sentuhan-sentuhan manis dari Sang Pencipta sebagai pusat segala keajaiban dan juga kekuatan kata-kata yang ter-gores halus saya percaya.
Saya punya segalanya tanpa harus memiliki segalanya.
Dengan tidak mengurangi rasa hormat serta syukur saya kembali meluncurkan afirmasi buatan yang semoga jauh lebih kuat dari tahun sebelumnya, sepuluh untuk tidak terlalu tamak dan sepuluh untuk tetap mencerminkan kepuasan diri, karena Allah SWT Maha Pemurah lagi Maha Penyayang yang mendengar makhluknya bahkan jika ia berbisik lirih, dimulai dengan percakapan kecil hingga dialog terbuka akan rangkuman maksud hati dan permohonan.
Saya bisa, saya mampu, karena saya hidup.
Dan saya adalah manusia yang memiliki predikat makhluk sempurna lagi egois, yang saya butuhkan adalah perhatian dan limpahan kasih sayang berlebih, dengan usaha dan rencana matang untuk menarik perhatian-Nya, biar bagaimanapun "manusia sepatutnya berencana hanya Ia yang berhak menentukannya" bukan? jadi mengapa kita tidak menekankannya pada kata berencana ketimbang menentukan.
Saya Positif.

20 December 2012

20 Desember 2012

Dan saya menyerah, saya kembalikan semua kepada yang berkuasa atas saya, saya salah karena ingin mengendalikan segala sesuatunya sempurna, padahal untuk dapat melihatnya saya harus paham akan arti kekurangan dan yang terpenting mau menerimanya, terlebih dengan yang saya miliki, rasanya cukup untuk meragukan kemampuan saya yang hanya membuat saya terjerumus dalam ketidakstabilan emosi, selama masih tetap saya zona apapun itu tidak jadi masalah.
Tidak jadi soal jika saya kehilangan diri saya yang lama karena saya akan menemukan diri saya yang baru dimanapun saya inginkan, saya akan menikmati kehidupan tanpa harus memaksakan, karena memikirkan tanpa berbuat apa-apa hanya menggerogoti apa yang telah saya bangun dengan susah payah sebelumnya, saya akan mencoba untuk tenang, tidak apa jika rencana yang tersusun rapi ter-tiup angin karena angin selalu bertiup membawa rencana-rencana lainya. 

19 December 2012

Fix Me


COLDPLAY - FIX YOU

When you try your best but you don't succeed
When you get what you want but not what you need
When you feel so tired but you can't sleep
Stuck in reverse

And the tears come streaming down your face
When you lose something you can't replace
When you love someone but it goes to waste
Could it be worse?

Lights will guide you home
And ignite your bones
And I will try to fix you

And high up above or down below
When you're too in love to let it go
But if you never try you'll never know
Just what you're worth

Lights will guide you home
And ignite your bones
And I will try to fix you

Tears stream down your face
When you lose something you cannot replace
Tears stream down your face
And I
Tears stream down your face
I promise you
I will learn from my mistakes
Tears stream down your face
And I
Lights will guide you home
And ignite your bones
And I will try to fix you

19 Desember 2012

Klise memang, tapi apa daya kalimat "the worst enemy you can meet will always be yourself" itu selalu benar, saya memandang diri saya terlalu tinggi dan terlalu rendah hampir dalam waktu yang bersamaan, menciptakan skenario untuk sandiwara terburuk memang sepertinya sudah mendarah daging, sadar atau tidak film pendek yang menyakitkan berputar dengan sendirinya, jika sudah seperti itu saya tau kekalahan akan segera datang.
Saya tidak ditakdirkan untuk menjadi pribadi nekat, apakah benar? sampai taraf itulah kegalauan yang diciptakan monotonisme ruang hampa kepada pola pikir kehidupan saya, organ apakah yang patut disalahkan karenanya, saya hanya ingin bebas dan terbang sesuai kehendak saya, tapi itu berarti saya tidak hidup.

18 December 2012

18 Desember 2012

Pernah dengar kalimat "Life begins at the end of your comfort zone" atau "Everything you've ever wanted is one step outside your comfort zone"? ya saya pernah, sudah lama bahkan, tapi kalimat itu tidak pernah sedemikian hebat mengusik saya seperti sekarang ini, mengapa? saya juga tidak tau, yang jelas saya merasa terganggu, mungkin karena jauh didalam sana paham bahwa saya sudah terlalu lama menikmatinya, ya mungkin saja.
Belakangan segala sesuatunya tidak lagi terasa benar, serba salah, serba takut, naluri saya sekarat, diri saya terbelah menjadi beberapa keping saja, membuat saya merasa lemah dan tidak sehebat yang saya kira, saya merasa tumpul.
Saya panik, virus apa yang kiranya menyerang saya ini, masuk kedalam pori-pori kulit bahkan mengalir dalam pembuluh darah, saya dikendalikan oleh sesuatu yang tak tampak, membuat saya berteriak dengan mulut terkunci rapat, dengan mata terbelak menyaksikan dunia statis, saya butuh pertolongan.

08 November 2012

Mencoba Jadi Pahlawan

Saya seorang lulusan diploma yang terjebak dalam rutinitas tak berakar selama hampir empat tahun di sebuah perusahaan perkebunan yang baru saja berbunga, membuat hampir setiap orang yang mendengarnya berdecak kagum dalam pikiran masing-masing sebelum saya melanjutkan bahwa saya hanya seorang admin, tidak kurang tidak lebih. Saya tidak pernah mengharapkan lebih karena hidup ini bagi saya selayaknya bisnis, jika ingin untung besar maka sudah pasti modal yang dikeluarkan juga harus sama besar, dan saya menyebutnya hukum pertukaran setara. 

Sebagai anak pertama dari dua bersaudara yang terlahir dari keluarga “ada” membuat saya telah mendapat banyak pemahaman mengenai kehidupan perekonomian keluarga bahkan sejak masih duduk dibangku sekolah dasar, menjadikan saya tidak pernah bisa menuntut akan apa yang tidak diberikan kepada saya namun juga merasa kurang pada apa yang saya terima, terutama sekali dalam bidang pendidikan. 

Dengan harapan meringankan beban orang tua, saya selalu berusaha agar dapat mengemban pendidikan pada sekolah-sekolah negeri, selain karena biayanya yang jauh lebih murah, tes saringan masuk yang semakin sulit setiap tahunnya juga menjadi sebuah pembuktian terhadap kemampuan berfikir seorang anak. Walaupun saya bukan termasuk anak yang pintar dengan nilai cemerlang yang selalu menempati ranking sepuluh besar, paradigma yang tertanam jauh pada masa itu membuat saya bangga pada diri sendiri.

Namun, jauh di dalam diri juga terdapat rasa iri kepada mereka yang bisa menjalani pendidikan pada sekolah berkelas, bukan karena mereka selalu memakai seragam yang modis dengan ruangan-ruangan kelas yang berisi peralatan dan perlengkapan yang menunjang, melainkan karena perhatian yang diberikan oleh para pendidiknya. Bagaimana tidak, bandingkan saja kelas yang hanya terdiri dari beberapa murid dengan kelas yang rasa-rasanya jika belum penuh sesak maka pelajaran belum akan dimulai, dan guru juga manusia bukan?

02 November 2012

Wanna Be Starting Something

Dua minggu ini saya dikelilingi kesibukan beragam yang anehnya membuat saya senang karena bisa memilikinya, butuh waktu yang lama untuk saya menyadari dan menerima bahwa saya bukan tipe manusia dengan tingkat kedisiplinan non manusiawi seperti yang selalu saya inginkan, satu dua kali saya mencoba untuk menyusun ritme hidup dan tiga empat kali gagal karena saya begitu cepat berubah, minat-minat saya juga ikut berubah karenanya, hingga pada akhirnya hanya ada satu yang tidak pernah berubah yaitu cerita.
Saya suka membaca dan menulis cerita, karena rasanya setiap kali melakukannya saya menemukan kepingan diri saya didalamnya, saya bahkan rela menghabiskan satu hari penuh untuk itu. Selalu ada buku yang mengisi kesibukan saya, bahkan saat saya menulis ini pikiran saya sering kali teralih ke tetralogi Eragon karya Christopher Paolini, sudah tidak sabar rasanya ingin melanjutkan petualangan Eragon dalam buku ke-3, Brisingr, tapi masih banyak waktu untuk itu, seperti dalam perjalanan atau pun saat mengisi waktu-waktu senggang disela-sela pekerjaan, saya masih tetap bisa merasakan petualangan-nya, mungkin saat saya menyelesaikan buku ke-4 nanti saya akan mencoba untuk menceritakan bagaimana petualangan seorang Eragon sang penunggang naga yang memiliki nama seperti saya, Saphira. Namun untuk saat ini yang saya ingin ceritakan adalah cuplikan tulisan saya sendiri, salah satu kesibukan menyenangkan yang berawal dari mimpi dan inspirasi, tercipta dari pengalaman hidup dan harapan, hingga membuat saya berharap cukup disiplin agar bisa terus menulis dan menghasilkan karya darinya dan akhir kata ini lah awalnya,

15 October 2012

The Only Way I Get There Is One Step At a Time


JORDIN SPARKS - ONE STEP AT A TIME LYRICS 

Hurry up and wait so close but so far away
Everything that you've always dreamed of
Close enough for you to taste but you just can't touch

You wanna show the world but no one knows your name yet
Wonder when and where and how you're gonna make it
You know you can if you get the chance
In your face and the door keeps slamming

Now you're feeling more and more frustrated
And you're getting all kind of impatient, waiting
We live and we learn to take

One step at a time there's no need to rush
It's like learning to fly or falling in love
It's gonna happen and it's supposed to happen
That we find the reasons why, one step at a time

You believe and you doubt
You're confused and got it all figured out
Everything that you always wished for
Could be yours, should be yours, would be yours if they only knew

You wanna show the world but no one knows your name yet
Wonder when and where and how you're gonna make it
You know you can if you get the chance
In your face and the door keeps slamming

Now you're feeling more and more frustrated
And you're getting all kind of impatient, waiting
We live and we learn to take

One step at a time there's no need to rush
It's like learning to fly or falling in love
It's gonna happen and it's supposed to happen
That we find the reasons why, one step at a time

When you can't wait any longer
But there's no end in sight
It's the faith that makes you stronger
The only way we get there is one step at a time

Take one step at a time there's no need to rush
It's like learning to fly or falling in love
It's gonna happen and it's supposed to happen
That we find the reasons why, one step at a time

One step at a time there's no need to rush
It's like learning to fly or falling in love
It's gonna happen and it's supposed to happen
That we find the reasons why, one step at a time

12 October 2012

RANSEL / KOPER ?

Mengapa saya memilih judul ini untuk cerita perjalanan saya yang pertama, terus terang karena pertanyaan inilah yang pertama kali terlintas di benak saya. Seolah-olah memang hanya ada dua cara untuk bepergian, cara ransel yang semakin trend atau cara koper seperti yang sudah-sudah.
Entah bagaimana dengan orang lain, buat saya karena ada sesuatu seperti cara ransel-lah saya bisa merealisasikan perjalanan ini. Melalui kisah-kisah para backpacker diseluruh dunia yang tidak jarang diceritakan lewat gambar atau-pun tulisan telah cukup meyakinkan saya.
"Dibutuhkan keberanian untuk mengenal dunia bukan hanya sekedar materi."
Boleh dibilang keberanian saya serba tanggung karena menurut sebagian backpacker Singapore jelas kurang menantang (kecuali untuk berbelanja) dan mereka sendiri jarang menyebutkan tempat pertama yang mereka tuju setelah memutuskan melakukan sebuah perjalanan.
Perjalanan saya mungkin tidak menarik dan bukan sesuatu yang baru bagi beberapa orang, mungkin saya memang bukan backpacker hanya seseorang yang ingin belajar untuk menikmati perjalanan dengan kemudahan (dan kemurahan) oleh sebab itu saya menolak keras cara koper yang telah ditanamkan oleh keluarga (yang mana lebih mementingkan kenyamanan, keamanan dan kepuasan dengan harga yang selaras sejalan).
Dan melalui sedikit campur tangan ransel saya-pun telah di sulap berisi koper, saya juga tidak bisa menolak segala bentuk pertolongan dari tangan-tangan tak terlihat, sedikit merasa malu karena rasanya belum cukup mandiri dalam membuat keputusan sendiri hanya saja mengetahui saya bisa sampai disetiap tempat yang telah saya rencanakan dengan selamat dan sedikit tersesat tanpa bantuan tangan-tangan tersebut membuat saya yakin kalau saya bisa mengunjungi negara mana-pun yang saya inginkan jika saya berani mengambil resiko, kesempatan juga berani untuk menyisihkan sedikit penghasilan untuk itu.
Pada akhirnya saya tidak bisa menjawab cara apa yang saya tempuh selama perjalanan, namun saya berharap suatu saat saya bisa dan yakin dalam memilih salah satunya.

11 October 2012

RANSEL / KOPER ? (Part 4)

Hari ke-4 :
Tgl 28 September 2012 entah karena waktu tidur yang lebih lama ketimbang dua malam sebelumnya atau karena terlalu capek sehingga tidur jadi ke-lewat pulas pagi itu saya bangun dengan perasaan Fresh se-segar-segarnya. Dari pukul 07.00 kami sudah siap dan membahas rute perjalanan untuk hari itu, terus terang dalam itinerary saya sebelumnya area Bugis Street dan Chinatown terdapat di hari ke-2, sementara di hari ke-4 akan kami gunakan untuk menikmati pemandangan hijau taman dan perbukitan yang mana menurut Om Fuad hampir semua lahan hijau itu kini sudah berubah menjadi apartemen atau perumahan sehingga lebih baik kami mengunjungi tempat lain. Jadilah dalam waktu singkat kami memutuskan untuk melengkapi saja itinerary kami di hari ke-2 dan berlama-lama disetiap tempatnya selain itu kami juga bermaksud mengalokasikan biaya penginapan menjadi belanja oleh-oleh.
Peta MRT & LRT Singapore
Berhubung tugas guide lokal hampir selalu berada ditangan saya maka dari itu saya putuskan bahwa kami akan berhenti di City Hall MRT Station dengan tujuan Suntec City untuk menyaksikan air mancur terbesar di dunia "Fountain of Wealth" sekaligus sarapan di tempat bernama food republic sebelum mulai menghambur-hamburkan uang.
Saat mengamati peta MRT didalam buku sekilas saya berfikir, selama berada di Singapore kami telah melewati Gren Line, Purple Line, Bahkan Yellow Line, hanya Red Line yang belum pernah kami coba dan sebuah ide tiba-tiba saja terlintas di kepala saya saat kami telah melewati Chinese garden MRT Station, "Kenapa kita tidak coba saja, MRT kan tidak selalu dibawah tanah kecuali Purple Line jadi paling tidak ada beberapa yang bisa kita lihat di daerah perbukitan." dan saat saya selesai menyampaikan gagasan untuk pindah ke Red Line saat itu juga kami langsung bergerak ke pintu keluar tepat sebelum pintu menutup.
Spontanitas kami diawali dengan sangat baik, MRT yang kosong, pemandangan yang hijau dan juga perasaan yang bebas, namun lama-kelamaan MRT semakin penuh, pemandangan menjadi gelap saat memasuki terowongan, yang lebih buruk lagi perut terasa keroncongan karena lapar belum sarapan, sehingga membuat mood kami berubah drastis dan membuat perjalanan tampak tak kunjung usai, belum lagi perjalanan yang kami tempuh dari  City Hall MRT Station menuju Fountain of Wealth juga tidak lebih baik.
Ceritanya pasang muka BT
Untung-lah saya termasuk "Food Lover" sehingga mudah saja untuk memperbaiki mood selama ada makanan enak (yang murah) oleh karena itu sebelum kami beranjak ke tempat air mancur berada kami merasa lebih baik mengenyangkan perut terlebih dahulu.
Suasana di Food Republic
Sayangnya dari sekian banyak toko makanan hanya satu yang kami temukan bertuliskan halal, walaupun menu-menu sarapan yang ditawarkan toko makanan lain tampaknya tidak mengandung unsur yang aneh-aneh tetap saja saat kami mendekat langsung di sambut dengan kata-kata "No Halal... No Halal...", dan akhirnya kami harus puas dengan menu sarapan kami yang tidak lain dan tidak bukan adalah susu kedelai, kue bantal dan cakwe.
Indah dengan susu kedalai & the giant cakwe yang maknyus abiz
Baru pernah makan kue bantal rasa Green Tea
Setelah perut kenyang rasanya agak sayang kalau meninggalkan tempat itu tanpa mengabadikan beberapa momen dengan foto-foto cantik disetiap sudutnya, bahkan kami tidak langsung berhenti saat seorang nenek cina menegur kami dalam bahasa yang sama sekali kami tidak pahami.
Suddenly in love with this place

09 October 2012

RANSEL / KOPER ? (Part 3)

Hari ke-3 :
Tgl 27 September 2012 sesuai dengan itinerary pagi-pagi kami sudah bersiap menuju Universal Studios Singapore (USS) yang berada di kawasan Resort World Sentosa. Dengan menggunakan MRT kami turun di stasiun Harbour Front menuju Vivo City Level 3 dan membeli tiket Sentosa Express seharga S$3.5 (PP) juga tiket Song of The Sea seharga S$10 untuk pukul 08.40pm, tiket USS sendiri sudah kami pesan satu hari sebelumnya dari teman Om Fuad seharga S$60 (harga normal S$68). Tidak lupa kami mengambil peta yang disediakan agar kami dapat memutuskan jalur mana yang akan kami ambil terlebih dahulu.
Menggunakan Sentosa Express menuju Waterfront Station
Universal Studios ~ Here I Come ^^
Berfoto bersama Universal Globe yang terkenal
Langsung disambut Frankenstain
Mencoba berbagai topi aneh yang di-display di depan toko
Sejenak terngiang lagu You're The One That I Want-nya Grease
Dan setelah menimbang-nimbang kami memutuskan untuk memulai kesenangan dari sisi kiri dengan wahana yang sebagian besar diprioritaskan untuk anak-anak hingga berakhir disisi kanan dengan wahana yang berbahaya dan paling ekstrim, dan itu artinya petualangan kami dimulai dari zona Madagascar.
Disambut 4-Sekawan Madagascar

03 October 2012

RANSEL / KOPER ? (Part 2)

Melanjutkan posting saya yang sebelumnya disini saya ingin berbagi pengalaman 5 hari 4 malam selama di perjalanan dari mulai hari keberangkatan sampai kedatangan kembali di Jakarta, dan sesuai dengan slogan wisata yang dimiliki-nya tema perjalanan saya kali ini tentu saja Uniquely Singapore.
Hari ke-1 :
Life Starts Here
Tgl 25 September 2012 saya menunggu Indah (rekan saya) di depan pintu keberangkatan Terminal 3 selama hampir 30 menit karena saya sampai lebih cepat dari perkiraan, saya sendiri tidak habis pikir bagaimana bisa perjalanan Pasar Minggu - Bandara Soekarno Hatta hanya memakan waktu kurang dari 40 menit, tapi segala sesuatu memang ada hikmahnya, saya jadi memiliki banyak waktu untuk mengurus bagasi (jangan ditanya kenapa saya tiba-tiba ada bagasi).
One Step Closer
Setelah menunggu pesawat yang delayed selama 20 menit, pukul 17.45 kami berangkat menuju Singapore. Begitu sampai di Terminal 1 saya langsung mengaktifkan paket roaming dan mendapat 2 hari free BBM full service dari operator yang saya gunakan di Indonesia dan segera memberi kabar ke Om Fuad sang tuan rumah yang dengan baik hatinya mau menjemput kami.
Kinetic Rain di Terminal 1 Changi
Begitu bertemu, Om Fuad dengan sigap langsung mengarahkan kami ke Airport Sky Train menuju Terminal 2 yang langsung membawa kami menuju stasiun MRT.
Saya & Indah di dalam Sky Train
Welcome to MRT Station
Selain mengajarkan kami cara menggunakan MRT, Om Fuad juga sudah menyediakan kartu EZ-Link untuk perjalanan kami ini. Untunglah ada kartu ini karena kami belum sempat membeli Singapore Tourist Pass yang mana akan kami gunakan selama 3 hari kedepan.
Suasana di dalam MRT
Tanah Merah MRT Interchange Station
Om Fuad juga mentraktir kami makan malam sebelum melanjutkan perjalanan kerumah menggunakan bus.
Mencicipi Nasi Ayam &Nasi Goreng Khas Singapore
SBS Transit: Bus No. 243W menuju Jurong West
Home ~ Finally

02 October 2012

RANSEL / KOPER ? (Part 1)

Saya selalu iri dengan pemilik blog bertajuk jalan-jalan dan sejenisnya, bagi saya yang hampir selalu berada di rumah kecuali untuk kegiatan umum seperti sekolah, kuliah dan kerja, sebuah perjalanan memiliki kemewahan tersendiri, bukannya saya tidak pernah jalan-jalan hanya saja berpetualang seorang diri rasanya sangat tidak mungkin apalagi jika harus menginap dan menghabiskan waktu berhari-hari.
Semenjak Abi tiada bukan hanya diri sendiri yang menjadi tanggung jawab saya, Mamah dan Aziz juga sama penting, kami saling menjaga dan memunculkan peraturan-peraturan yang tidak sama kuat seperti yang dulu Abi buat hingga kami merasa bahwa kami bisa menjaga diri kami masing-masing, paling tidak itu menurut saya.
Lalu muncullah sebuah keputusan yang saya ambil  atas kepentingan diri sendiri bahwa saya ingin berpetualang. Curcol saya disini bisa dibilang menjadi penyulut namun jauh didalam lubuk hati saya tau saya sudah berbuat licik, menang atau tidak saya memang sudah ada niat untuk pergi, hanya saja dengan alasan paspor yang sudah dibuat, ditambah tabungan rencana yang telah saya persiapkan selama dua tahun masa kerja dan tentu saja Harry Potter the Exhibition yang hanya berlangsung singkat hingga 30 September 2012 di Art Science Museum - Singapore rasanya akan sia-sia melarang saya untuk pergi.
Bulan Juni di umur ke-24 menjadi sebuah awal, setelah beberapa lama mencari dan tidak berhasil menemukan teman seperjalanan maka saya putuskan untuk berangkat seorang diri, siapa sangka salah seorang rekan di kantor yang melihat saya sedang asik berburu tiket mengajukan diri untuk ikut, terus terang saya agak ragu namun melihat keseriusan-nya maka tiket-pun saya pesan. Awalnya saya ingin berangkat di hari Senin, 24 September 2012 (karena tgl sebelumnya sudah tidak ada promo) namun karena telat satu hari booking maka saya harus menerima pergi di hari Selasa, 25 September 2012 dan kembali pada hari Sabtu, 29 September 2012.
Saya menghabiskan Rp. 721.000 untuk tiket PP tanpa bagasi apalagi makan yang memang saya akui murah (walaupun belum termasuk Airport tax CGK-SIN sebesar Rp.150.000), selain itu saya juga mencari tempat menginap (murah) selama disana dan dari sekian banyak hostel yang direkomendasikan para Backpacker saya memilih The Hive dengan harga S$ 24/malam yang jika dirupiahkan menjadi Rp. 739.200 (kurs Rp. 7.700) untuk 5 hari 4 malam di Singapore. Saya tidak menyangka kalau ternyata keluarga saya memiliki kenalan yang tinggal disana sehingga dengan senang hati saya membatalkan pemesanan hostel dan mengalihkan pengeluaran hostel tersebut untuk hal lainnya.
"The law of equivalent exchange" kembali saya rasakan disini namun semua yang saya terima jauh lebih berharga dari pada yang saya berikan (atau yang saya hilangkan) dan saya tidak ingin membahas pertukaran apa yang saya alami selama perjalanan ini karena tidak boleh ada penyesalan.
Browsing... browsing... browsing... itulah cara saya menghabiskan waktu senggang di kantor, tempat-tempat menarik beserta rute transportasi semua saya kumpulkan dalam satu folder. Saya juga membeli buku Budget Traveling - Singapore Update dibawah ini sebagai buku pegangan saya selama disana dan semua itu sama sekali tidak sia-sia karena itinerary saya dan buku ini sangat bermanfaat selama perjalanan, saya selalu yakin segala sesuatu jika di rencanakan dengan baik pastilah akan memberikan hasil yang baik pula.

To Be Continued......

07 September 2012

What Type Of Man Do You Attract?

Terlahir dalam keluarga bergaris keturunan membuat ku tidak memiliki banyak pilihan untuk memilih calon pendamping hidup bahkan yang lebih buruk tidak ada pilihan, kebebasan sudah sejak lama kutinggalkan sebelum mencicipinya karena tidak lama setelah mengetahui bahwa kata itu ada mamah telah memberikan segala pengetahuannya mengenai siapa aku, apa tugas yang ku emban dan apa yang harus kulakukan, tapi aku tetap seorang anak perempuan (pada masa itu) yang rasa-rasanya memiliki pujaan hati adalah suatu keharusan tersendiri maka aku mulai merangkai kriteria milik-ku yang saat kutemukan dalam diri seseorang mau tidak mau selalu menarik perhatian-ku. Jika kukatakan dengan gamblang bahwa aku belum pernah jatuh cinta sekalipun itu tidak bohong, sejak hari dimana mamah mencurahkan segalanya aku membentengi diriku dengan perisai namaku, tapi jika aku bilang tidak ada satu orang-pun yang menarik hatiku dari tepian hingga ke dasar maka pasti jelas aku berbohong.
Sebelumnya aku ingin meluruskan satu hal, orang yang menarik hatiku jelas dan pastilah seorang pria (laki-laki). Karena ingatan semu hampir tidak ada anak laki-laki yang ku ingat semasa taman kanak-kanak dan hanya dua anak laki-laki yang ku ingat namanya serta satu anak laki-laki yang ku ingat tingkah-nya namun tidak namanya saat sekolah dasar. Dua yang pertama ku ingat bukan karena hal spesial, tapi karena yang satu rumahnya paling dekat denganku (saat itu) dan yang satu sok nya minta ampun. Yang sok ini adalah kakak kelas yang punya adik sepupu sekelas denganku dan yang ku ingat hanya dia jahat, sementara yang satu tak bisa ku ingat adalah anak yang sering bertengkar denganku, banyak yang bilang karena dia suka aku maka dia selalu saja mencari masalah denganku (selalu membuatku tersenyum bahkan saat aku menuliskannya barusan) namun sayangnya hal itu kuketahui setelah aku pindah (sinetron sekali), dan dimasa-masa itu lah aku tau aku menaruh perhatian lebih pada seseorang yang datang sesekali membantu ku dalam pelajaran dan dalam hal perlindungan dari si jahat.

15 August 2012

My Soulmate is...

Lagi-lagi diawali dengan tanda tanya, berapa banyak manusia di muka bumi ini yang benar-benar menemukan belahan jiwanya dan berapa banyak diantaranya yang disatukan ikatan suci?

Dalam sebuah buku (lagi-lagi) karangan Paulo Coelho yang berjudul Brida saya menemukan pertanyaan sekaligus pernyataan seperti ini;
“But how will I know who my Soulmate is?” Brida felt that this was one of the most important questions she had ever asked in her life. 
By taking risks’ she said to Brida. ‘ By risking failure, disappointment, disillusion, but never ceasing in you search for Love. As long as you keep looking, you will triumph in the end.”

Benarkah? bagaimana jika saya belum pernah sekali-pun berhadapan dengan resiko harus dipertahankan atau dilepaskan, bagaimana jika yang selama ini saya lakukan hanyalah sebatas pencarian kecocokan, kenyamanan dan keamanan, bukan pertaruhan akan sebuah hubungan yang berujung kearah ke-tidak bahagia-an dan bagaimana jika saya menemukannya justru dalam jenis manusia tidak terduga seperti sahabat saya sendiri.
Saat saya mencari definisi belahan jiwa/soulmate dalam kamus oxford saya menemukan penjabaran sebagai berikut "a person ideally suited to another as a close friend or romantic partner." yang mana membuat saya yakin seorang Rina Anindita adalah salah satu diantaranya (selanjutnya kita sebut saja enci, yang walaupun bukan keturunan namun saya tetap curiga ada DNA suku bangsa cina yang entah bagaimana ter-sasar ke tubuhnya).

14 August 2012

Keep Moving Forward !!

Terkadang saya bertanya-tanya, berapa banyak kiranya manusia di muka bumi ini yang benar-benar menemukan tujuan hidupnya dan berapa banyak diantaranya yang dapat mewujudkannya?

Terus terang saya iri dengan jenis manusia yang mempunyai ketetapan pola pikir dan gigih meraih keinginannya. Jika pertanyaan serupa ditanyakan kepada saya, dengan sedikit menutup diri saya hanya bisa menjawab bahwa saya tidak boleh egois bahkan untuk sekedar memikirkan-nya. Dibalik jawaban itu entah mereka sadar atau tidak tersirat rasa penyesalan sekaligus pernyataan bahwa saya tidak salah karena tidak memilikinya. Hingga akhirnya saya kembali kepada, apapun, kapanpun, dimanapun dan bagaimanapun ujungnya nanti yang saya harus tetap lakukan adalah jangan pernah berhenti.
Berjalan, seperti saat saya menghadapi kemacetan lalu lintas dan memutuskan untuk berjalan sampai saya merasa cukup lelah dan cukup untung karena mengirit ongkos satu kendaraan umum atau saat saya tidak tahu rute kendaraan umum di-suatu daerah dalam kota dan terus menelusuri jalannya hingga saya menemukan keinginan untuk bertanya atau saat saya memutuskan bahwa saya akan berjalan di negeri seberang sana dan mematahkan segala bentuk pertahanan dan kesangsian sekitar akan diri saya yang sebenarnya saya sendiri juga rasakan.


Rasa optimis bercampur spontanitas yang saya miliki entah sejak kapan telah menjadi nilai tambah yang sering kali merugikan karena keputusan yang diambil dalam waktu cepat tidak selalu memperhatikan akal sehat dan akhirnya menimbulkan ketakutan akan kerugian yang membuat saya berhenti sampai-sampai menutup berbagai kemungkinan setelahnya. Boleh dibilang saya keras kepala, karena beberapa lama kemudian saya akan kembali mengambil resiko dengan dasar "You have to take risks. We will only understand the miracle of life fully when we allow the unexpected to happen" seperti yang Paulo Coelho tuliskan.

The Unexpected, itulah yang saya cari saat berjalan tak tentu arah. Saya tidak pernah menaruh pengharapan lebih pada jalanan yang saya lalui oleh karena itu segala hal menjadi suatu yang tidak disangka-sangka, yang saya tekankan saat menjalaninya hanyalah tidak boleh ada penyesalan sedikit-pun setelahnya walaupun sedikit sekali pasti ada.
Saat saya harus rela melepaskan sebuah rumah penuh kenangan dan mencari rumah lain yang aman dalam waktu singkat, saya meyakinkan diri saya dan orang sekitar bahwa pilihan saya tepat. Terus terang dalam hati saya ragu, namun jika tidak demikian saya dan orang yang saya sayangi mungkin akan dibawa arus ketidakpastian entah kemana maka dari itu saya merasa sudah saatnya mengambil resiko.
Hal-hal yang merugikan yang tidak saya sangka-sangka bermunculan setelahnya namun saya masih punya kesempatan dan waktu untuk berjalan memperbaikinya maka dari itu nilai tambah tetap berpihak pada saya. Keyakinan kuat akan perlindungan Sang Maha Kuasa juga menimbulkan rasa percaya diri yang nyata, kini hanya saya dan Ia yang tahu sebesar apa rasa cemas dan sejauh mana pemikiran saya untuk melaluinya karena walaupun tanpa tujuan saya tahu akhir jalan saya adalah membahagiakan dan memberikan mereka yang saya sayangi ketenangan.

Akhirnya saya lagi-lagi ingin memberikan pembelaan diri terhadap segala hal dalam diri saya yang cepat berubah bentuk seperti tulisan ini yang karena telah mengalami jeda cukup lama dan membuat saya ingin mengungkapkan apapun yang terlintas di-kepala saya. Yang tidak gigih namun memiliki keyakinan besar pada apapun yang saya percayai dan tidak pernah sekalipun ingin menutup diri dari kesempatan walaupun rasa takut menyerang. Yang walaupun tidak memiliki tujuan namun memiliki mimpi dan akan terus membangunnya serta merubah apapun itu jika tidak sesuai seiring sejalan. Dan hanya saya yang mengerti diri saya bukan orang lain dan tanpa orang lain memaksakan tujuannya saya akan terus berjalan.

02 July 2012

Antara Saya dan Sastra


Saya jatuh cinta pada Sastra untuk kesekian kalinya tanpa perlu takut akan sakit yang ditimbulkan setelahnya, dan selayaknya manusia yang sedang jatuh cinta terkadang ia bisa sangat membutakan. Beberapa diantaranya bahkan dapat menjadi candu yang menghilangkan akal sehat dan merubah segala pola pikir yang selama ini telah dibangun dengan susah payah.
Awalnya saya malu untuk menyatakan perasaan saya terhadap Sastra karena yang selama ini saya kenal hanyalah sebatas Fiksi namun karenanya-lah saya belajar untuk mengenal Sastra lebih jauh. Bagaikan mak comblang berpengalaman Fiksi menemukan persamaan-persamaan kami dan membuka satu persatu kelebihan Sastra yang membuat saya semakin penasaran.
Hingga pada akhirnya apa yang saya tau selama ini tidak terlalu penting lagi, melemahkan dan menguatkan disaat yang bersamaan dengan rangkaian kata tak bertuan yang saya tak pernah sapa sebelumnya. Sastra mengajarkan saya untuk mengenal bukan dikenal dan jangan pernah berpuas diri sampai saya terbiasa dengan teori bernama kompleksitas.

27 June 2012

Bukannya Aku, Lalu...

Bukannya tidak pernah memulai, namun selayaknya manusia yang mudah menyerah pada tekanan aku memilih untuk diam.
Terasa sakit saat tekanan datang dari sisi dalam hingga diam tidak lagi dapat membendung kata-kata yang mengalir dalam bentuk butiran air mata.
Untuk sesaat aku ingin menyerah kalah pada pemikiran-pemikiran penuh tanda tanya akan sisi buruk ketidakpastian.
Dan setiap manusia membawa kisah berbeda yang membangun karakternya maka aku tidak ingin menghakimi.

Bukannya tidak pernah memulai, namun selayaknya manusia yang memilih jalan panjang berliku penuh belukar ketimbang lurus dihiasi jejak bunga aku lantas menjadi besar kepala.
Terasa lelah saat jalan penuh hambatan justru datang dari seorang yang dikenal dekat dan tidak menerima penolakan dalam bentuk apapun.
Untuk sesaat aku ingin mengikuti jalan yang mendominasi walaupun tampak salah hingga harus membunuh naluri seorang makhluk.
Dan setiap manusia memiliki takdir masing-masing yang tertulis jauh sebelum jalan tercipta maka aku memilih untuk percaya kepada Sang Pencipta.

21 June 2012

Dear Future

"Dear Past, thanks for all the lessons. Dear Future, I'm ready"
@Laughbook - Twitter

Sebaris kalimat yang menyambut saya pagi ini menimbulkan pertanyaan kepada masa lalu atas pelajaran yang sebagian besar terlupakan dan kepada masa depan yang berwarna.
Susah memang untuk mengacuhkan masa depan, berhenti meramalkan-nya bukan berarti membuat saya berhenti memikirkan-nya, kekuatan pikiran untuk menggambarkan sebuah masa depan yang berjarak sangat tipis dengan meramalkan membuatnya sulit untuk dibedakan.
Dan karena saya termasuk jenis orang yang percaya kepada kekuatan pikiran namun sulit untuk mengendalikannya tanpa campur tangan hati sehingga membuat kenyataan mendominasi segala sesuatunya, maka dari itu saya ingin menyampaikan beberapa pesan kepada masa depan.

Dear Future,

Please be nice...
Hanya harapan dengan sepasang sayap mimpi yang saya miliki. Se-rapuh bulu angsa yang ter-tiup angin terkadang ia jatuh ke tanah. Saat jatuh tak jarang saya menepis lalu menghapus serangkaian warna,
Please don't be angry...
Jangan menjadikan rasa sakit sementara untuk kesenangan selamanya. Biarlah itu menjadi kutukan tersendiri dalam bentuk sebuah "hadiah". Karena serangkaian masa depan yang saya genggam tergantung nasib pihak lain,
Please understand...
Jika hati mulai mengambil alih dan memancarkan warna yang jauh lebih terang. Jangan pernah menutup pintu kemungkinan yang ada, karena saya telah siap membuka paksa sebuah jendela. Oleh karena itu biar saya menanggung segala konsekuensi-nya tanpa perlu menerobos masuk.
Please be ready...
Karena saya datang dengan berbagai macam rencana.

Love,
~Me~

19 June 2012

Kemewahan Pagi

Pagi ini seperti biasa saya bangun dari tidur, menjalankan kewajiban kepada Sang Pencipta dan lalu menjalankan kewajiban kepada diri sendiri dengan ditemani segelas kopi panas, selembar roti, satu sendok madu, dua butir telur setengah matang yang tidak terlalu biasa ditambah sebuah pernyataan "Hari ini siap menjadi Hulk" (dengan maksud kuat seperti hulk bukan hijau seperti hulk). Sesekali memandang ke halaman yang hadir dibalik jendela dan sesekali memandangi kicauan burung dibalik layar smartphone membuat hidup terasa begitu mewah.
Kemewahan ini terus berlanjut saat saya mulai meninggalkan kemalasan saya di meja makan dan bersiap-siap menjalani rutinitas berkepanjangan bernama pekerjaan. Langkah kaki ringan teriring doa, hangat sinar mentari dan restu serta senyum mamah membuatnya lebih dari sempurna. Saat saya sadari betul segala kesempurnaan itu justru datang dari hal-hal sederhana pemberian Sang Maha Besar yang jika saya cukup bersyukur maka akan menampakkan diri dengan sendirinya.
"I understand once again that the greatness of God always reveals itself in the simple things." ― Paulo Coelho, Like the Flowing River
Kutipan yang telah merangkum kesempurnaan serta kemewahan diatas saya ambil dari sebuah buku yang menemani perjalanan saya hari ini. Terus terang banyak cara untuk menikmati sebuah perjalanan berulang dengan jalan (rute) yang sama setiap harinya, pemandangan yang itu-itu saja dan aktivitas yang selalu berubah dan berkembang, terkadang saya hanya menjadi pengamat, sesekali menjadi pendengar, dan sering kali saya melakukan Astral Travel baik ke dalam sebuah buku atau ke sebuah tempat yang singgah di pikiran saya (jangan ditanya bagaimana cara saya melakukannya, karena itu semua hanya ada di dalam imajinasi saya).
Dan mengingat saya adalah tipe manusia yang mudah sekali terpengaruh namun cepat lupa, setiap buku dapat menimbulkan efek samping yang lumayan hebat jika saya fokus, paling cepat bertahan dalam sehari namun tidak jarang bertahan selamanya jika saya mengkonsumsi-nya secara berulang. Oleh karena itu bisa merasakan efek samping yang baik dari buku yang dibaca pada sebuah angkutan umum sampai-sampai melakukan Astral Travel hingga lupa sudah saatnya turun juga merupakan sebuah kemewahan tersendiri. ^^

To be continued...

18 June 2012

If I Have Roots Before Branches

Finally last night I was watching the last episode of Glee's season 3 with eyes full of tears, especially when Rachel sang Roots Before Branches, a song originally sung by Room For Two (which I  never  heard before).
She taught me the meaning of give up and let go what we think are the most important things to follow our dreams, ambitions and hope but never forget to believe.




Rachel:
So many things To do and say
But I can't seem To find my way
But I wanna know how
I know I'm meant For something else
But first I gotta find myself
But I don't know how

Rachel with Finn harmonizing:
Oh, why do I reach for the stars
When I don't have wings 
To carry me that far?

Rachel with Finn:
I gotta have Roots before branches
To know who I am
Before I know Who I wanna be
And faith To take chances
To live like I see
A place in this world For me

18 Juni 2012

Awal perjumpaan saya dengan dunia bernama Blog adalah pada sebuah mata kuliah web-design saat duduk di bangku kuliah lima tahun silam. Berawal dari pencarian sebuah nilai pada secarik kertas hingga nilai kehidupan yang nyata sedikit demi sedikit Blog mulai mengambil alih sebagian diri saya dan lalu menciptakan dunianya sendiri.

Blog pertama saya berjudul "Air Mata Seorang Hawa" yang hanya terdiri dari beberapa pos dan saya acuhkan selama beberapa tahun, hingga saya tidak ingat lagi bagaimana bisa saya membuat catatan-catatan yang hanya berisi kesedihan di dalamnya. Lalu suatu keadaan tertentu kembali membuat saya ingin menyapa dunia sekali lagi untuk berbagi kesedihan atas sebuah kehilangan dan "Air Mata Seorang Hawa" menunggu saya di baliknya.

Semudah membalikkan telapak tangan saya menghilangkan sebuah dunia dan membangun dunia baru atas nama Seorang Putri Pelangi dan tak ada lagi Seorang Hawa. Pikiran dangkal saya menuai penyesalan yang teramat sangat sekarang ini.

Merangkai dunia baru dengan maksud untuk berbagi tampaknya tidak lagi cukup belakangan ini, kemurnian dunia Blog saya tercemar dengan polusi bernama SEO.  Saya ingin dunia saya ini di baca oleh banyak orang dan mengguncang dunia mereka setelahnya, saya ingin pengakuan dan bukti bahwa saya ada. Berbagai bentuk jalan menuju Roma saya tempuh untuk menaikkan page rank, ambisius memang, lalu entah bagaimana saya menemukan alam semesta berisi berbagai macam dunia di sini.

Ada pelajaran yang saya petik saat menjadi anggota di dalamnya, pelajaran kehidupan bernama "take & give" tidak berlaku. Dalam semesta ini saya di ajarkan untuk memberi lebih jika ingin mendapatkan, itulah etikanya menurut salah seorang anggota. Lalu saya kembali menutup diri dari polusi SEO, yang saya butuhkan adalah lebih banyak cerita dan lebih mengenal dunia lain dan lalu berbagi dengan mereka karena saya yakin akan ada mereka-mereka yang ingin mengenal dunia saya nantinya.

Me, Myself and I

A week after my 24th birthdays, i try to remember what i ever did so far, like playing back movies i found myself always "play-safe" in the line.

I just have to admit it that i'm not a perfect person because i make a lot of mistakes but still worth it enough to be loved and then i realized something....


Life is filled with multiple puzzle without any clue. One dream is closed and opened another thousands of dreams, makes me think in my sleep and no longer able to distinguish which is dream and reality.

Is it okay if i want to redesign everything to the smallest things? am i still have enough time for that? am i still have enough courage to face any failures that i take even without try over in the first place.

The future looks scary and grim lately because i feel tired even without running.

I guess i need to stop worrying about the future and be thankful for what i've been through so far, i believe there's always a plan for every tomorrow and nothing can substitute experience.

07 June 2012

07 Juni 2012

Dunia berputar seiring dengan lingkaran takdir dan saya tidak berani mengatakan bahwa saat ini saya berada di bawah karena itu berarti saya tidak menghargai semua yang telah diberikan Sang Pencipta namun tidak juga bisa berfikir bahwa saya pernah di atas karena di atas langit masih ada langit, maka saya menyatakan bahwa saya bukan busur dari sebuah lingkaran tapi saya berada di tengahnya.
Egois sepertinya saat mendapatkan segala bentuk perhatian dari busur untuk diri sendiri, tapi  mengingat tidak semua perhatian berakhir baik jadi saya memutuskan untuk tidak ambil pusing dan menikmati saja.
Contohnya seperti belakangan ini saat saya kembali menuntut hak atas kewajiban yang saya jalankan entah saya yang salah menyampaikannya atau mereka yang salah menerimanya atau mereka yang tidak siap menerima apa-apa dan lalu membuat kesimpulannya sendiri justru mengurangi kewajiban saya.
Saya titik dan mereka busur kami tidak saling bersinggungan, sekian lama mereka mengamati saya namun mereka tau Nihil tentang saya dan saya sudah lama menyerah untuk menjadi jari-jari. Bukannya saya lantas berdiam diri dalam kondisi ini, saya sudah mencoba dan masih mencoba untuk mencari lingkaran lain dan berbaur dengan banyak titik.
Dan itu tadi adalah contoh kecil dari sebuah lingkaran dasar untuk lingkaran takdir yang lebih besar.

25 May 2012

Berhenti Meramal Masa Depan

Saya kembali menyusun kepingan-kepingan diri yang sempat tersebar dalam diam pada sebuah bacaan ringan berjudul "Si Cacing dan Kotoran Kesayangannya" oleh Ajahn Brahm dan saya bertemu lagi dengan karma disana, sebuah kata yang selalu menarik perhatian dan entah bagaimana selalu menyelamatkan saya, bagi saya kata itu seperti merangkumkan sebuah ayat Allah SWT;
“Dan barang siapa yang mengerjakan kebaikan sebesar biji zarah niscaya ia akan menerima pahalanya, dan barangsiapa yang melakukan keburukan sebesar biji zarah niscaya ia akan menerima balasannya.” (Qs. Az-Zalzalah: 7-8) oleh karena itu saya percaya karma itu ada.
Saya muslim dan tidak perlu dipertanyakan, karma yang saya maksud disini jelas bukan "paham fatalisme dimana seseorang ditakdirkan untuk menderita atas kejahatan yang tak diketahui pada kehidupan lampau yang telah terlupakan." bahkan Ajahn Brahm pun menambahkan "Itu tidaklah benar" dalam bukunya, menurutnya "Setengah dari karma adalah bahan-bahan yang kita miliki. Setengah sisanya, bagian yang paling menentukan, adalah apa yang kita lakukan dengan bahan-bahan tersebut dalam hidup ini." dan itu tidak jauh beda dengan karma dalam kamus saya.
Bagi saya reinkarnasi ada dalam bentuk yang berbeda dan jelas kita menjalani beberapa bentuk kehidupan, seperti saat berada dalam rahim ibu pun itu menjadi dunia yang berbeda, belum lagi setelah kita meninggal dunia, berapa kehidupan yang akan kita masuki setelahnya masih menjadi sebuah rahasia. WaAllahu 'Alam Bis Shawab.

24 May 2012

23 Mei 2012

Lagi-lagi rasa ini, bukan yang pertama kali namun yang ter-... dalam segala hal. Terbiasa dengan serba tiga tahun membuat waktu setelahnya menjadi anonim. Tidak pernah terfikirkan sebelumnya, hanya saja keadaan beberapa bulan ini memaksanya mengalir ke permukaan dan menunjukkan adegan demi adegan antiklimaks yang buruk hingga pada akhirnya sebuah keputusan dibuat, Tiga Tahun Ini Hanya Sebuah Kesalahan.

Pepatah "Penyesalan selalu datang terlambat" kembali menyapa atas waktu yang tak tergantikan dan ilmu yang tak ada artinya. Kembali memunculkan lebih banyak titik buta dan membutakan sebagian besar presepsi atas diri sendiri. tanpa sadar diambil alih pola pikir tak bertuan.

Seolah-olah terjadi pertambahan umur pada setiap helaan nafas, garis-garis kerut telah mendapatkan hak patennya lebih cepat beberapa puluh tahun dan selayaknya sebuah virus menjalar dengan cepat.

Saat ini terjadi seorang mamah sebagai dokter jaga 24Jam, konsultan atas nama sahabat dan obat instan dari sebuah kutipan menjadi pertolongan pertama, sisanya rawat jalan ataupun rawat inap diserahkan kepada sang maha pencipta, Allah SWT.

16 May 2012

Minna no Nihongo - Yasashii Nihongo

Judul kali ini berhubungan dengan Nihongo yang artinya Bahasa Jepang, Kenapa begini? Kenapa begitu? adalah karena saya ingin kembali mengulang pelajaran Bahasa Jepang yang pernah saya terima semenjak saya duduk di bangku kuliah hingga duduk di bangku lembaga pendidikan khusus bahasa Jepang.
Alhamdulillah hingga saat ini saya sudah berhasil mengantongi Sertifikat Dasar III dari lembaga tersebut dan karena lagi-lagi terpentok biaya saya kembali mengambil waktu jeda untuk menabung sambil mempelajari soal-soal Japanese Language Proficiency Test (JLPT) atau Nihongo Nōryoku Shiken (semacam ujian kemampuan bahasa Jepang berstandar internasional) yang rutin dilaksanakan pada bulan Juli dan Desember.
Atas dasar "bisa karena terbiasa" tampaknya memang sulit untuk mempelajari bahasa asing seorang diri, mengingat tidak ada satu orangpun disekitar saya yang bisa diajak berbicara bahasa Jepang, dan karena bahasa adalah ilmu sosial yang mana terbiasa karena penggunaan sehari-hari maka dari itu saya ingin membiasakannya disini dengan siapapun yang membaca catatan ini.
Tak kenal maka tak sayang jadi mari kita mulai dengan Shoukai (Perkenalan), Hajimemashou...
  • Hajimemashite / Perkenalkan (diucapkan saat pertama kali bertemu)
  • Watashi wa Vira desu / Saya adalah Vira (saat menyebutkan nama)
  • Indoneshia kara Kimashita / Datang dari Indonesia (memberitahukan tempat asal)
  • Dozo yoroshiku onegaishimasu / Mohon bimbingannya (untuk mengakhiri perkenalan, bisa juga diartikan "Senang berkenalan dengan anda")
Menurut pengalaman saya perkenalan dalam bentuk formal diatas dapat digunakan dengan satu orang atau banyak orang dan biasanya lawan bicara akan menjawab dengan hal serupa atau sekedar menyembutkan nama serta diakhiri dengan Dozo Yoroshiku.

Selanjutnya yang tidak kalah penting adalah Aisatsu (Sapaan), kata-kata yang paling sering digunakan dalam kehidupan sehari-hari.
  • Moshi-moshi / hallo (saat berbicara di telepon)
  • Ohayoo gozaimasu / selamat pagi
  • Konnichiwa / selamat siang
  • Konbanwa / selamat malam
  • Oyasumi nasai / selamat tidur (selamat beristirahat)
  • Sayounara / selamat tinggal (sampai jumpa)
  • Doumo arigatou gozaimasu / terima kasih banyak
  • Dou itashimashite / sama-sama
  • Sumimasen / maaf permisi
  • Gomen nasai / mohon maaf
  • Itte kimasu / saya pergi (saat mau keluar rumah)
  • Itte irassai / selamat jalan (balasan itte kimasu)
  • Tadaima / saya pulang
  • Okaeri nasai / selamat datang (balasan tadaima)
  • Irasshaimase / selamat datang (diucapkan kepada para pelanggan sebuah toko)
  • Shitsurei shimasu / permisi (saat bertamu)
  • Omedetoo gozaimasu/ selamat
  • Arigatoo gozaimasu / terimakasih
  • Itadakimasu / selamat makan
  • Gochisou sama deshita / terima kasih makanannya

09 May 2012

Everlasting Euphoria (Part Two)

Tema hari ini adalah "Hari Rabu Minggu Lalu". Tepat seminggu setelah Laruku konser di Jakarta dan hampir seluruh yang hadir di Lapangan D saat itu rasanya masih sulit untuk beranjak dari Tgl 2 May 2012, termasuk saya. Pada jam ini seminggu yang lalu posisi saya jelas masih berada di rumah dan nak ndyut masih berada di kampus untuk menjalankan UTS. Sambil menunggu nak ndyut pulang tentunya saya tidak bisa duduk-duduk santai (karena terlalu bersemangat) jadi sejak membuka mata dan setelah menjalankan aktivitas pada umumnya saya kembali memutar Playlist Laruku yang telah tersusun rapi, tidak lagi mendengarkan lewat headset/headphone hari itu saya menyambungkannya ke speaker. Saya  menyanyi dan menari bahkan untuk beberapa lagu melompat-lompat (hitung-hitung olah raga pagi).
Pada posting sebelumnya saya telah menceritakan bagaimana perjuangan kami mencapai lapangan dalam dengan selamat dan utuh serta dengan keberuntungan yang maha adil. Nak ndyut menyebutnya sebagai "The Law of Equivalent Exchange" atas perjuangan (mengantri, berlarian & berdesakan) dan pengorbanan (HappyTos & sebungkus rokok) yang telah kami alami sehingga hasil yang kami capai sama besarnya. Sungguh "Berakit-rakit ke hulu, Berenang-renang ke tepian" itu ada, apalagi jika mengingat tepian yang saya capai adalah pagar batas premium yang mana membuat saya berada cukup dekat dengan para personil Laruku (hanya dibatasi security dan VIP).
Menunggu selama hampir dua jam sempat membuat kami semua heboh dengan penampakan-penampakan di atas panggung dari mulai kru sampai petugas-petugas panggung disambut dengan teriakan histeris dari beberapa Cielers yang berada di baris VIP. Lucu jika mengingat para kru asli Jepang itu tersipu malu karena disambut dengan meriah selayaknya personil Laruku itu sendiri. Salah seorang kru bahkan mengambil foto dan mencoba menyapa penonton dengan melambaikan tangan (serasa artis), dan walaupun saya tahu mereka tidak mengerti dan mungkin tidak mendengar, saya menyempatkan diri untuk berteriak,
"Kirim salam buat Tet-Chan".

06 May 2012

Everlasting Euphoria (Part One)

Belum siap rasanya untuk menginjakkan kaki kembali ke dunia nyata, Euphoria konser L'Arc en Ciel (Laruku) di Jakarta Rabu kemarin masih melekat pada tubuh seperti Jubah besar kerajaan, hangat menyelimuti dengan kemewahan yang berkilauan dan rasanya sulit untuk kembali menggunakan pakaian rakyat jelata karenanya. Seperti mimpi yang berkelanjutan mengisi ruang di sudut ingatan, dari awal semua begitu berkesan dan rasanya akhir tidak pernah akan datang.
Sebelumnya tepat di H-1 kami (saya dan adik kecil besar saya yang biasa dipanggil nak ndyut) menukarkan voucher ke sini dan karena saat itu saya belum mengambil cuti maka kami menyempatkan diri pada saat makan siang. Tentu saja begitu kami tiba antrian panjang dan penuh sesak tak beraturan sudah memenuhi TKP seperti yang terlihat pada foto di bawah.
Bingung harus memulai dari mana saya putuskan untuk langsung bertanya pada mas-mbak terdekat yang menyimpulkan saya sudah berada pada antrian yang benar untuk pengambilan nomor (foto sebelah kanan), dan kurang dari 10 menit berdesak-desakan voucher saya telah berubah menjadi sepotong kertas kuning kecil dengan angka 678 ditengahnya.
Seolah menjawab pertanyaan saya berikutnya, tidak lama terdengar pengumuman (dari foto sebelah kiri) yang kira-kira berbunyi "untuk nomor empat ratus segini sampai empat ratus segitu silahkan masuk ketempat pengambilan tiket (garasi)" dan yang terlintas di pikiran saya saat itu adalah, pengalaman membuat passport tanpa calo (baca disini) benar-benar sangat bermanfaat, dua ratus orang didepan tidak menjadi masalah untuk kembali menunggu mendapatkan dua tiket premium yang cantik ini.
Seperti akan berlibur keluar-kota jaman kecil dulu, malam itu saya sulit untuk memejamkan mata dan tidur.
" I want to fly ~ Waiting for sunrise"
Dan selayaknya doa, pagi datang dengan hangat sinar mentari tanpa awan mendung, cerah dan menyemangati. Siang itu juga kami berangkat menuju Lapangan D Senayan dengan senyum merekah dan berpamitan selayaknya orang pergi Haji.
"Ready Steady GO"

30 April 2012

I Love Monday (Only for today)

Hari ini langit Jakarta dan sekitar tampak tidak bersahabat, hari pertama untuk kembali beraktivitas di minggu ini (baca : senin) digelayuti hawa lembab dan cuaca mendung yang semakin menyelimuti rasa malas. Seolah belum cukup menguji mental tak lama setelah saya menginjakkan kaki kedalam mobil (angkutan umum) hujan berupa butiran-butiran air yang halus (baca : gerimis) mulai turun, dan saya bukanlah seorang "Miss Rain".
Bagi saya hujan hanya indah saat saya memandangnya dari balik selimut di atas tempat tidur entah sambil tertidur atau-pun terduduk membaca. Hujan di pagi hari yang aktif selalu mengisi peringkat tiga besar dalam daftar "Unfavorite Things" dan saling berebut posisi dengan " I Never Like Monday" seperti itulah kira-kira. 
Namun, semua itu tidak berlaku di H-2 menjalang L'Arc en Ciel World Tour 2012 di Jakarta yang entah bagaimana caranya telah menghapus segala ke-negatif-an di hari ini, bahkan rasanya sulit untuk berhenti tersenyum. Suasana di kantor-pun tampak mendukung sehingga saya punya lebih banyak waktu menyusun hal-hal yang perlu dipersiapkan untuk lusa nanti dan selayaknya strategi perang, saya dan pasukan telah mencari tahu kondisi lapangan dari layout yang diberikan pihak Promotor.

27 April 2012

Reality or Fantasy (CurCol Sang Putri)

Kurang dari seminggu (H-5 lebih tepatnya) L'Arc en Ciel akan menggemparkan Lapangan D Senayan dengan konser bertajuk World Tour 2012 dan rasa-rasanya waktu berjalan semakin lama
(just can't wait any longer).
Dan semakin mendekati hari H membuat saya semakin bersemangat untuk mencari informasi mengenai persiapan-persiapan yang perlu diketahui dan perlu dilakukan serta dibawa jika sewaktu-waktu diperlukan sebelum dan selama konser berlangsung
(Maklum, belum pernah nonton konser sebelumnya). 
Hingga pada akhirnya pencarian saya mulai membuahkan hasil yang sangat menggembirakan, yaitu....
(Drum please....) 
"Laruku akan secara khusus membawakan lagu My Dear yang didedikasikan untuk saya seorang" 
(Eee'Aaaaa...#ditendang Cielers sekampung)
(Info yang tadi jelas HOAX saudara-saudara mohon jangan dipercaya)

Sebelum-nya di sini saya sempat menceritakan bagaimana telah mendapatkan tiket konser Laruku di Jakarta dan sebelum saya memberikan info-info seputar konser yang akan berlangsung nanti izinkan saya menceritakan kisah perjuangan saya untuk mendapatkan tiket konser Laruku di Singapore (negara tetangga yang punya patung Singa)
Cerita berawal dari sebuah mimpi dan sebuah kutipan populer "A journey of a thousand miles begins with a single step by Lao-tzu" easy isn't it? or in my case the quotes turn into ;
Single step to take a quiz, 
Single step to make a passport, 
Single step to find cheap flight, accommodation, bla bla bla, 
and many single step to do if I didn't win...

Dan pucuk dicinta si akang tiba, salah satu Channel TV favorit saya mengeluarkan quiz yang menawarkan hadiah "sambil menyelam minum air"  sebagai berikut 
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...