25 May 2012

Berhenti Meramal Masa Depan

Saya kembali menyusun kepingan-kepingan diri yang sempat tersebar dalam diam pada sebuah bacaan ringan berjudul "Si Cacing dan Kotoran Kesayangannya" oleh Ajahn Brahm dan saya bertemu lagi dengan karma disana, sebuah kata yang selalu menarik perhatian dan entah bagaimana selalu menyelamatkan saya, bagi saya kata itu seperti merangkumkan sebuah ayat Allah SWT;
“Dan barang siapa yang mengerjakan kebaikan sebesar biji zarah niscaya ia akan menerima pahalanya, dan barangsiapa yang melakukan keburukan sebesar biji zarah niscaya ia akan menerima balasannya.” (Qs. Az-Zalzalah: 7-8) oleh karena itu saya percaya karma itu ada.
Saya muslim dan tidak perlu dipertanyakan, karma yang saya maksud disini jelas bukan "paham fatalisme dimana seseorang ditakdirkan untuk menderita atas kejahatan yang tak diketahui pada kehidupan lampau yang telah terlupakan." bahkan Ajahn Brahm pun menambahkan "Itu tidaklah benar" dalam bukunya, menurutnya "Setengah dari karma adalah bahan-bahan yang kita miliki. Setengah sisanya, bagian yang paling menentukan, adalah apa yang kita lakukan dengan bahan-bahan tersebut dalam hidup ini." dan itu tidak jauh beda dengan karma dalam kamus saya.
Bagi saya reinkarnasi ada dalam bentuk yang berbeda dan jelas kita menjalani beberapa bentuk kehidupan, seperti saat berada dalam rahim ibu pun itu menjadi dunia yang berbeda, belum lagi setelah kita meninggal dunia, berapa kehidupan yang akan kita masuki setelahnya masih menjadi sebuah rahasia. WaAllahu 'Alam Bis Shawab.

24 May 2012

23 Mei 2012

Lagi-lagi rasa ini, bukan yang pertama kali namun yang ter-... dalam segala hal. Terbiasa dengan serba tiga tahun membuat waktu setelahnya menjadi anonim. Tidak pernah terfikirkan sebelumnya, hanya saja keadaan beberapa bulan ini memaksanya mengalir ke permukaan dan menunjukkan adegan demi adegan antiklimaks yang buruk hingga pada akhirnya sebuah keputusan dibuat, Tiga Tahun Ini Hanya Sebuah Kesalahan.

Pepatah "Penyesalan selalu datang terlambat" kembali menyapa atas waktu yang tak tergantikan dan ilmu yang tak ada artinya. Kembali memunculkan lebih banyak titik buta dan membutakan sebagian besar presepsi atas diri sendiri. tanpa sadar diambil alih pola pikir tak bertuan.

Seolah-olah terjadi pertambahan umur pada setiap helaan nafas, garis-garis kerut telah mendapatkan hak patennya lebih cepat beberapa puluh tahun dan selayaknya sebuah virus menjalar dengan cepat.

Saat ini terjadi seorang mamah sebagai dokter jaga 24Jam, konsultan atas nama sahabat dan obat instan dari sebuah kutipan menjadi pertolongan pertama, sisanya rawat jalan ataupun rawat inap diserahkan kepada sang maha pencipta, Allah SWT.

16 May 2012

Minna no Nihongo - Yasashii Nihongo

Judul kali ini berhubungan dengan Nihongo yang artinya Bahasa Jepang, Kenapa begini? Kenapa begitu? adalah karena saya ingin kembali mengulang pelajaran Bahasa Jepang yang pernah saya terima semenjak saya duduk di bangku kuliah hingga duduk di bangku lembaga pendidikan khusus bahasa Jepang.
Alhamdulillah hingga saat ini saya sudah berhasil mengantongi Sertifikat Dasar III dari lembaga tersebut dan karena lagi-lagi terpentok biaya saya kembali mengambil waktu jeda untuk menabung sambil mempelajari soal-soal Japanese Language Proficiency Test (JLPT) atau Nihongo Nōryoku Shiken (semacam ujian kemampuan bahasa Jepang berstandar internasional) yang rutin dilaksanakan pada bulan Juli dan Desember.
Atas dasar "bisa karena terbiasa" tampaknya memang sulit untuk mempelajari bahasa asing seorang diri, mengingat tidak ada satu orangpun disekitar saya yang bisa diajak berbicara bahasa Jepang, dan karena bahasa adalah ilmu sosial yang mana terbiasa karena penggunaan sehari-hari maka dari itu saya ingin membiasakannya disini dengan siapapun yang membaca catatan ini.
Tak kenal maka tak sayang jadi mari kita mulai dengan Shoukai (Perkenalan), Hajimemashou...
  • Hajimemashite / Perkenalkan (diucapkan saat pertama kali bertemu)
  • Watashi wa Vira desu / Saya adalah Vira (saat menyebutkan nama)
  • Indoneshia kara Kimashita / Datang dari Indonesia (memberitahukan tempat asal)
  • Dozo yoroshiku onegaishimasu / Mohon bimbingannya (untuk mengakhiri perkenalan, bisa juga diartikan "Senang berkenalan dengan anda")
Menurut pengalaman saya perkenalan dalam bentuk formal diatas dapat digunakan dengan satu orang atau banyak orang dan biasanya lawan bicara akan menjawab dengan hal serupa atau sekedar menyembutkan nama serta diakhiri dengan Dozo Yoroshiku.

Selanjutnya yang tidak kalah penting adalah Aisatsu (Sapaan), kata-kata yang paling sering digunakan dalam kehidupan sehari-hari.
  • Moshi-moshi / hallo (saat berbicara di telepon)
  • Ohayoo gozaimasu / selamat pagi
  • Konnichiwa / selamat siang
  • Konbanwa / selamat malam
  • Oyasumi nasai / selamat tidur (selamat beristirahat)
  • Sayounara / selamat tinggal (sampai jumpa)
  • Doumo arigatou gozaimasu / terima kasih banyak
  • Dou itashimashite / sama-sama
  • Sumimasen / maaf permisi
  • Gomen nasai / mohon maaf
  • Itte kimasu / saya pergi (saat mau keluar rumah)
  • Itte irassai / selamat jalan (balasan itte kimasu)
  • Tadaima / saya pulang
  • Okaeri nasai / selamat datang (balasan tadaima)
  • Irasshaimase / selamat datang (diucapkan kepada para pelanggan sebuah toko)
  • Shitsurei shimasu / permisi (saat bertamu)
  • Omedetoo gozaimasu/ selamat
  • Arigatoo gozaimasu / terimakasih
  • Itadakimasu / selamat makan
  • Gochisou sama deshita / terima kasih makanannya

09 May 2012

Everlasting Euphoria (Part Two)

Tema hari ini adalah "Hari Rabu Minggu Lalu". Tepat seminggu setelah Laruku konser di Jakarta dan hampir seluruh yang hadir di Lapangan D saat itu rasanya masih sulit untuk beranjak dari Tgl 2 May 2012, termasuk saya. Pada jam ini seminggu yang lalu posisi saya jelas masih berada di rumah dan nak ndyut masih berada di kampus untuk menjalankan UTS. Sambil menunggu nak ndyut pulang tentunya saya tidak bisa duduk-duduk santai (karena terlalu bersemangat) jadi sejak membuka mata dan setelah menjalankan aktivitas pada umumnya saya kembali memutar Playlist Laruku yang telah tersusun rapi, tidak lagi mendengarkan lewat headset/headphone hari itu saya menyambungkannya ke speaker. Saya  menyanyi dan menari bahkan untuk beberapa lagu melompat-lompat (hitung-hitung olah raga pagi).
Pada posting sebelumnya saya telah menceritakan bagaimana perjuangan kami mencapai lapangan dalam dengan selamat dan utuh serta dengan keberuntungan yang maha adil. Nak ndyut menyebutnya sebagai "The Law of Equivalent Exchange" atas perjuangan (mengantri, berlarian & berdesakan) dan pengorbanan (HappyTos & sebungkus rokok) yang telah kami alami sehingga hasil yang kami capai sama besarnya. Sungguh "Berakit-rakit ke hulu, Berenang-renang ke tepian" itu ada, apalagi jika mengingat tepian yang saya capai adalah pagar batas premium yang mana membuat saya berada cukup dekat dengan para personil Laruku (hanya dibatasi security dan VIP).
Menunggu selama hampir dua jam sempat membuat kami semua heboh dengan penampakan-penampakan di atas panggung dari mulai kru sampai petugas-petugas panggung disambut dengan teriakan histeris dari beberapa Cielers yang berada di baris VIP. Lucu jika mengingat para kru asli Jepang itu tersipu malu karena disambut dengan meriah selayaknya personil Laruku itu sendiri. Salah seorang kru bahkan mengambil foto dan mencoba menyapa penonton dengan melambaikan tangan (serasa artis), dan walaupun saya tahu mereka tidak mengerti dan mungkin tidak mendengar, saya menyempatkan diri untuk berteriak,
"Kirim salam buat Tet-Chan".

06 May 2012

Everlasting Euphoria (Part One)

Belum siap rasanya untuk menginjakkan kaki kembali ke dunia nyata, Euphoria konser L'Arc en Ciel (Laruku) di Jakarta Rabu kemarin masih melekat pada tubuh seperti Jubah besar kerajaan, hangat menyelimuti dengan kemewahan yang berkilauan dan rasanya sulit untuk kembali menggunakan pakaian rakyat jelata karenanya. Seperti mimpi yang berkelanjutan mengisi ruang di sudut ingatan, dari awal semua begitu berkesan dan rasanya akhir tidak pernah akan datang.
Sebelumnya tepat di H-1 kami (saya dan adik kecil besar saya yang biasa dipanggil nak ndyut) menukarkan voucher ke sini dan karena saat itu saya belum mengambil cuti maka kami menyempatkan diri pada saat makan siang. Tentu saja begitu kami tiba antrian panjang dan penuh sesak tak beraturan sudah memenuhi TKP seperti yang terlihat pada foto di bawah.
Bingung harus memulai dari mana saya putuskan untuk langsung bertanya pada mas-mbak terdekat yang menyimpulkan saya sudah berada pada antrian yang benar untuk pengambilan nomor (foto sebelah kanan), dan kurang dari 10 menit berdesak-desakan voucher saya telah berubah menjadi sepotong kertas kuning kecil dengan angka 678 ditengahnya.
Seolah menjawab pertanyaan saya berikutnya, tidak lama terdengar pengumuman (dari foto sebelah kiri) yang kira-kira berbunyi "untuk nomor empat ratus segini sampai empat ratus segitu silahkan masuk ketempat pengambilan tiket (garasi)" dan yang terlintas di pikiran saya saat itu adalah, pengalaman membuat passport tanpa calo (baca disini) benar-benar sangat bermanfaat, dua ratus orang didepan tidak menjadi masalah untuk kembali menunggu mendapatkan dua tiket premium yang cantik ini.
Seperti akan berlibur keluar-kota jaman kecil dulu, malam itu saya sulit untuk memejamkan mata dan tidur.
" I want to fly ~ Waiting for sunrise"
Dan selayaknya doa, pagi datang dengan hangat sinar mentari tanpa awan mendung, cerah dan menyemangati. Siang itu juga kami berangkat menuju Lapangan D Senayan dengan senyum merekah dan berpamitan selayaknya orang pergi Haji.
"Ready Steady GO"
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...