Lagi-lagi diawali dengan tanda tanya, berapa banyak manusia di muka bumi ini yang benar-benar menemukan belahan jiwanya dan berapa banyak diantaranya yang disatukan ikatan suci?
Dalam sebuah buku (lagi-lagi) karangan Paulo Coelho yang berjudul Brida saya menemukan pertanyaan sekaligus pernyataan seperti ini;
“But how will I know who my Soulmate is?” Brida felt that this was one of the most important questions she had ever asked in her life.
By taking risks’ she said to Brida. ‘ By risking failure, disappointment, disillusion, but never ceasing in you search for Love. As long as you keep looking, you will triumph in the end.”
Benarkah? bagaimana jika saya belum pernah sekali-pun berhadapan dengan resiko harus dipertahankan atau dilepaskan, bagaimana jika yang selama ini saya lakukan hanyalah sebatas pencarian kecocokan, kenyamanan dan keamanan, bukan pertaruhan akan sebuah hubungan yang berujung kearah ke-tidak bahagia-an dan bagaimana jika saya menemukannya justru dalam jenis manusia tidak terduga seperti sahabat saya sendiri.
Saat saya mencari definisi belahan jiwa/soulmate dalam kamus oxford saya menemukan penjabaran sebagai berikut "a person ideally suited to another as a close friend or romantic partner." yang mana membuat saya yakin seorang Rina Anindita adalah salah satu diantaranya (selanjutnya kita sebut saja enci, yang walaupun bukan keturunan namun saya tetap curiga ada DNA suku bangsa cina yang entah bagaimana ter-sasar ke tubuhnya).
Mengingat saya adalah tipe "terbuka sekaligus tertutup" yang cepat akrab dengan siapa saja namun hanya bisa menjalin hubungan dengan beberapa diantaranya maka dari itu gelar sahabat tidak pernah saya berikan dengan asal-asalan. Saya tahu manusia pada dasarnya adalah makhluk sosial, seorang teman sudah pasti menjadi kebutuhan primer tersendiri, tapi berapa banyak kiranya jenis teman yang ada didunia ini terlebih dengan adanya jejaring sosial yang telah tersebar didunia maya dan memiliki kekuatan satu sentuhan klik pada kata add/invite/follow lantas dapat memproklamasikan pertemanan yang seolah-olah tahu segala hal bahkan tanpa perlu bertemu atau berbicara sekalipun.
Teman bagi saya adalah mereka yang saya ajak bicara tanpa perlu berfikir terlalu muluk akan arah pembicaraan dan maksud dibalik-nya, dan saya merasa aman mengeluarkan kalimat-kalimat yang berasal dari dalam hati.
Sahabat bagi saya jelas memiliki kriteria teman ditambah kelebihan dan kekuatan untuk menstabilkan kejiwaan dan pola pikir saya yang sering melenceng dari frekuensi normal atau lebih hebatnya lagi mereka bisa mengikuti frekuensi tersebut tanpa perlu bersusah payah, dan saya merasa nyaman bersama mereka.
Lalu seorang enci yang entah bagaimana telah mematahkan segala benteng pertahanan saya hingga terkadang bisa merubah pola pikir dan membuat saya menyadari frekuensi lain yang tidak biasa namun tetap menjadi diri saya sendiri membuat saya banyak menemukan hal yang selama ini tersembunyi dan saya coba tutupi, di-situlah saya merasakannya, kecocokan atau dengan kata yang lebih menarik chemistry.
Oke saya jujur, tulisan ini saya dedikasi-kan memang untuk enci (tolong ge-ernya dalam batas wajar-aja ya) karena rasanya tidak adil selalu saja enci yang mendeklarasikan hubungan spesial diantara kami (terkesan tidak wajar memang), bahkan dia pernah menuliskan kalimat "kalau ada kamu versi laki-laki, I will say I do when he asks me to marry him" dalam sebuah tulisan blog-nya yang berjudul My Horcruxes walaupun saya tidak pernah mengatakannya dalam versi perempuan dan belum tentu akan mengatakannya jika memang saya terlahir dalam versi lelaki tapi kecocokan kami memang terkadang diluar batas normal manusia biasa.
Bukan maksud saya ingin menghakimi tapi saya telah banyak menemukan kemunafikan pada diri manusia yang saya kira teman, mereka yang memegang ucapan saya dan menggunakannya sebagai senjata di-kemudian hari atau mereka yang selalu memihak namun justru menjadi musuh yang nyata, dan mereka-mereka yang dengan seenaknya mendukung padahal mereka tahu hal tersebut justru akan menjadi kesalahan dan penyesalan bagi saya di-kemudian hari.
Enci justru sebaliknya, saya bisa membicarakan segala hal tanpa perlu takut bahkan hal yang saya khawatirkan sedikit-banyak berkurang setelahnya, dia selalu mendukung yang saya rasa benar dan saat tampak salah dia akan mengajak saya untuk menguraikan jenis kesalahan tersebut hingga yang semula tak terlihat menjadi jelas, kami sering mencari solusi untuk berbagai hal dari yang umum hingga yang pribadi dan memikirkan berbagai kemungkinan dari yang biasa hingga yang ajaib.
Dengan pengetahuannya yang luas dia bisa menjadi dokter alternatif kapanpun dan dalam kasus apapun saat saya butuhkan dan saya tidak perlu takut mal-praktik karenanya sebab saat dia tidak bisa membantu dia akan jujur, apa boleh buat dia hanya manusia (yang tidak) biasa sama seperti saya, dengan segala kelebihan yang saya lihat ada padanya terkadang dia juga bisa lemah dan saat itu saya mencoba se-bisa mungkin untuk memberikannya penyembuhan. Terkadang seperti kembar identik dalam hal berfikir namun dalam lain hal bisa menjadi dua kutub yang saling berseberangan namun tetap saling menghormati privasi masing-masing. Saya yang suka panas terik matahari dan dia yang suka hujan maka dari itu jika kami berdua bertemu maka akan selalu ada pelangi yang menghiasi langit.
![]() |
| Enci & Saya di salah satu pantai Balikpapan |
Enci terima kasih, karena sadar atau tidak dibalik kata-kata "i'm glad i have you as one of my best friends," seorang Syavira Alattas juga merasakannya semoga kita bisa terus saling berbagi cerita dan terus saling jujur akan apa yang kita pikirkan dan rasakan.





☹Hiikk∬☹(╥﹏╥)☹Hiikk∬☹ kamu membuatku termehek-mehek.. Ini agak sedikit terlalu romantis yaa..kyahahaha..
ReplyDelete"I know you've been hurt, lied to, I know what you've been through, cause I've been there too.."
Thanks for sending me the Rainbow song..somehow it makes me feel I'm not alone, and i'll never be alone..
#hughug..
postingan yang menarik....
ReplyDelete