16 February 2013

16 Februari 2013

"Bagi beberapa orang hanya ada satu mimpi untuk waktu lama
Untuk sebagian orang ada mimpi untuk satu masa lalu mimpi lain untuk sesaat
Kita menyebutnya mimpi yang terus berubah

Saya pribadi punya lebih dari satu mimpi
Ada yang telah mati terkubur
Terlupakan tertutup debu yang menggunung
Juga yang egois ingin terus mendapat perhatian

Bertanya-tanya bagaimana rasanya si pemimpi yang hanya memiliki sebuah mimpi
Membosankan? Sudah selesai, lantas apa? Atau hilang lalu menyerah?

Saya? Jangan ditanya berapa yang sudah saya capai
Tidak akan diingat

Manusia namanya, indah untuk dilupakan pahit untuk dikenang."

Tulisan ini bermain-main di benak saya setelah menyaksikan sebuah film berjudul Sayonara Itsuka. Film yang berkisah tentang seorang pria yang berambisi untuk meraih mimpinya dalam kesempurnaan, dengan karir yang cerah, seorang tunangan dari keluarga terpandang yang memiliki segala kebaikan, juga para sahabat, namun terkecoh oleh cinta yang datang saat ia bertugas tiga bulan sebelum pernikahannya.
Ia bahagia, bebas, menemukan banyak hal lain dalam dirinya yang tidak pernah ia rasakan apalagi tunjukkan pada orang lain, ia lupa dan meninggalkan yang selama ini ia percaya dan bangun dengan susah payah. Tidak sampai tiga bulan ia hampir kehilangan segalanya, hanya karena cinta, barulah ia ter-sadarkan akan cinta yang buta dan berfikir untuk meninggalkan cinta sekaligus sebagian dirinya yang baru.
25 Tahun berselang ia telah memiliki segala yang ia impikan, tujuan hidupnya tercapai, hanya cinta yang kurang. Menjalani hari-hari yang terkesan sama, ia merasa tidak bahagia ditengah kesempurnaan yang dibangunnya hingga pada akhirnya takdir merasa jengkel dan mempertemukan kembali dengan cintanya itu untuk sesaat. Mengapa saya bilang takdir jengkel kepadanya karena tidak lama berselang wanita pengecoh itu meninggalkannya untuk selama-lamanya karena penyakit yang telah lama dideritanya, dan ia kembali kekehidupan yang dipilihnya.

Cerita ini murni dari sudut pandang saya dan sejak awal saya sudah mengutuki pria ini karena ia tergoda dengan wanita pengecoh lalu menghabiskan waktu bersamanya dan meyakinkan bahwa ada cinta disitu, itulah pria pikir saya, menginginkan segalanya, jika tidak ada seorang wanita hebat di sisinya pria bodoh ini pasti sudah jatuh ke dasar bumi.
Bagi saya cinta berwujud justru datang dari calon istri sang pria, saya sangat mengagumi keanggunannya bahkan saat ia mendatangi wanita pengecoh yang telah merebut hati calon suaminya, ia bertahan dan menjaga keutuhan dan kehormatan keluarga dengan pria yang kehilangan dirinya sendiri.
Ia telah lama mengetahuinya, bahkan sebelum suaminya bertemu dengan wanita pengecoh tersebut bahwa suatu hari perpisahan akan datang seperti puisi yang ia tulis dengan judul yang sama dengan film ini, Sayonara Itsuka / Goodbye someday. Di akhir film puisi tersebut dihadiahkan untuk sang suami beserta sebuah foto  dirinya dengan wanita pengecoh tersebut, menjelaskan bahwa selama ini ia tahu segalanya, dan ia melepaskan kepergian suaminya untuk menemui wanita itu, mengejar apa yang dulu ia tinggalkan karena ia percaya suaminya akan kembali dan berikut cuplikan dari akhir film yang berisi puisi tersebut.

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...