22 April 2013

Memanusiawikan Manusia

Bagi saya, menghadiri kuliah Ilmu Sosial Budaya Dasar (ISBD) sudah seperti berada di Studio Metro TV untuk acara Talkshow Mario Teguh - The Golden Ways, penuh dengan motivasi. Saya sempat meyakini Pak. Eddy (sang dosen) adalah seorang Motivator di luar kampus, beliau membuat saya selalu bersemangat, padahal mata kuliah ini berada pada sesi dua (pkl. 20.00 s/d 21.30) sesi yang menurut saya membutuhkan lebih banyak asupan gula untuk sekedar masuk ketelinga lebih-lebih kedalam pikiran. Dan, 
Mari Kita...
Memanusiawikan manusia melalui pemahaman konsep keadilan, penderitaan, cinta kasih, tanggung jawab, pengabdian, pandangan hidup, keindahan & kegelisahan.
menjadi kata-kata pembuka materi Manusia dan Cinta Kasih mata kuliah ISBD dua pekan lalu.
Pembahasan cinta dan kasih selalu menarik perhatian terutama untuk kaum wanita, baik yang single, double atau quadruple sekalipun. Banyak pesan yang disampaikan berulang mengenai perbedaan cinta dan nafsu, membuat suasana kelas semakin riuh saja. Menurut Pak Eddy cinta adalah perasaan yang lebih menunjukkan perilaku memberi, bersifat manusiawi dan rohaniah, sementara untuk nafsu cenderung menuntut dan bersifat jasmaniah.
Tidak dapat dipungkiri manusia pastilah memiliki nafsu sehingga dibutuhkan norma dan agama untuk membendungnya. Bagi para wanita single yang memiliki partner Pak Eddy berpesan anggaplah saat kita memiliki seseorang yang kita sayangi itu seolah-olah kita sedang menunjuk dengan satu jari kearahnya, sebelum tercipta komitmen maka lindungi empat jari kita. Norma dan agama adalah komitmen, norma saja tidak cukup tanpa agama begitu sebaliknya, dan saat komitmen telah tercipta (lewat sebuah pernikahan) maka rengkuhlah ia dengan keseluruhan jari kita yakni dengan seluruh telapak tangan. Sangat indah bukan, saya rasa filosofi telapak tangan tersebut cukup untuk membuat wanita sadar akan betapa pentingnya menjaga hubungan sebelum menikah, bukan hanya fisik yang perlu dijaga namun juga hati.
Saya sendiri terus terang langsung teringat pesan mamah untuk menempatkan diri seolah-olah kita ini (wanita) adalah barang antik yang berada di dalam etalase, yang berarti tidak sembarang orang bisa melihatnya apalagi memegangnya. Suatu kehormatan besar menurut saya menjadi seorang wanita, terlebih jika melihatnya dari sudut pandang agama karena Islam sangat menjunjung tinggi harkat derajat dan martabat seorang  wanita.
Bicara tentang memanusiawikan manusia, disela-sela perkuliahan Pak Eddy juga meyakinkan kami dengan mengatakan manusia itu pada dasarnya baik, yang dibutuhkan hanyalah mengenali dirinya sendiri karena hati nurani selalu berbicara dan mendengar, dan itulah yang disebut dengan intuisi. Hati nurani tidak pernah mati, hanya saja jika kita abaikan dan sesekali membohonginya maka ia akan tertidur lagi tumpul, setelahnya tidak akan ada yang namanya firasat.
Semua yang berada di alam semesta ini sangatlah logis, jika kita percaya pada Tuhan yang Maha Baik dengan sendirinya pikiran kita akan mencari jalannya, terwujudnya angan-angan adalah tergantung dari langkah yang kita ambil dengan mendengarkan firasat dari dalam hati nurani. Lalu bagaimana dengan yang hati nuraninya tertidur lagi tumpul, firasat siapa yang ia dengar?
Pada hakikatnya sesuatu yang membahagiakan hidup manusia adalah sesuatu yang baik, benar dan adil. Demi kesempurnaan hidup dengan menggunakan akal-budinya manusia menciptakan kebahagiaan baik bagi dirinya dan masyarakat maka dari itu ia disebut sebagai makhluk berbudaya. Dan bukankah manusia yang bijaksana dan berbudaya adalah manusia yang dapat me-manage sifat-sifatnya yang buruk, lantas mengapa perlu di manusiawikan lagi?
Kondisi masyarakat saat ini sangatlah memprihatinkan, sikap-sikap masyarakat yang Egois, Individualis, Materialis, Hedonis dan lain sebagainya tentunya semakin banyak kita temui belakangan ini. Dipengaruhi arus globalisasi dan modernisasi manusia menghadapi krisis jati diri dan juga akhlak, agama tak lain dan tak bukan hanyalah sebagai simbol semata. Sampai-sampai Pak Eddy memberikan tugas membuat paper sepanjang dua halaman untuk menjabarkan bagaimana kita sebagai mahasiswa menghadapi kondisi tersebut. Hingga saya menyimpulkan, sudah saatnya kita sebagai manusia kembali mempelajari konsep penciptaan alam semesta ini beserta isinya yang tak lain dan tak bukan adalah untuk menyembah Allah SWT.
Dengan memanusiawikan diri sendiri untuk tidak meniru makhluk-makhluk lain yang tidak manusiawi rasa-rasanya jika kita masih dapat merasakannya baik itu cinta kasih, keindahan, harapan bahkan kegelisahan sekalipun maka itu berarti kita masihlah seorang manusia.

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...