05 September 2013

Ilmu Hati

Dibutakan hitung-hitungan mematikan.
Tidak tau apa yang ia ingin saya usahakan.
Melawatkan untuk kebaikan.
Tersadar,"Apa yang telah saya lakukan".

Ada sebuah kejadian dalam hidup saya yang jika dibaca oleh orang lain maka akan tampak seperti fiksi roman yang berakhir mengecewakan. Mengaku malas untuk mengingatnya namun dalam hati saya tau pikiran saya berkhianat. Ingatan tetap tinggal disana, apa boleh buat saya hanya bisa menyembunyikannya dan berharap dapat mengulang satu waktu itu saja (Saat dimana saya merasa menjadi makhluk paling rapuh sedunia dan bukan apa-apa). 
Menyesal bukan karena dirinya telah hadir tapi karena rasa yang timbul disebabkan dari diri yang lemah sendiri, tak ada pegangan dan kekanakan. Jiwa seorang anak tak pernah meninggalkan tubuh saya, mendominasi pikiran dan mengambil peran dalam beberapa adegan, seringnya sebagai peran utama. Dan kini saya merengek kepada Tuhan seperti balita menginginkan mainan baru karena mainan lamanya telah hilang.
Keraguan dan ketakutan membuat saya mempelajari segala kesalahan dari sudut pandang sisi lain, dihantui oleh kekurangan diri sendiri membuat saya bergantung pada letupan kecil sebuah harapan, Tuhan ada disana. Menatap saya dengan penuh kasihnya dan membimbing saya untuk mempelajari sebuah ilmu tentang hati.
Semoga kelak Tuhan mendengar rengekan doa saya.

Lama saya mempelajari ilmu hati.
Dan saya tau ia tak pernah pasti.
Apapun teorinya saya bisa mengerti.
Kenyataannya saya tetap patah hati.


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...