31 October 2014

Sebuah Perubahan

Rekor terpecahkan! Hampir setahun saya membiarkan blog ini berdebu dan bersarang laba-laba disetiap pojoknya. Jangan salah, sehari pun saya tidak pernah melupakan keberadaan catatan ini. Hanya saya yang terlalu malas untuk menuangkan setiap cerita kedalam tulisan. Jujur, saya sempat lupa caranya menulis. Bahkan untuk menuliskan petualangan ke KL-Malaysia Februari lalu bersama para ibu hanya teronggok tinggal rencana dalam draft ingatan. Dan kini saya ingin membuka kembali draft ingatan tersebut, karena bukan hanya catatan dari sebuah perjalanan yang terlewatkan disini melainkan juga catatan pertemuan dengan dirinya yang terangkum rapi dari bulan Februari.
Kami dipertemukan tepat seperti apa yang terbayangkan, yaitu dengan sentuhan manis dari Sang Maha Kuasa yang menggerakkan langkah kaki seorang manusia.
Dalam urusan percintaan, saya sangat gigih dalam menanti. Bekal pengetahuan akan silsilah dan garis keturunan mengharuskan saya untuk menjaga kesucian turun-temurun yang mengalir dalam darah, dan karena hal itu jugalah saya memiliki banyak waktu untuk memusatkan perhatian kepada diri sendiri, keluarga dan teman-teman.
Urusan pasangan hidup telah lama saya serahkan kepada Allah SWT dan perpanjangan tangan-tanganNya, karena dalam kamus saya kata pacar apalagi pacaran telah hilang bahkan sebelum terucap dan (amit-amit) terlaksana.
Dalam kesibukan saya menanti, setiap uluran tangan yang datang akan saya terima dengan kejernihan akal, kebaikan Islam, namun tidak pernah sekalipun dengan hati yang terbuka. Karena saya tahu, hati ini hanya satu, dan ia ada hanya untuk yang ber-hak atas saya kelak sehingga ia yang datang lalu pergi dan tak kembali tidak pernah bisa mematahkan apalagi membawanya ikut pergi. Dan perlakuan yang sama saya terapkan juga untuknya yang datang di Sabtu siang, 8 Februari 2014.
Awalnya, tidak ada yang spesial disini. Jangan pernah membayangkan pertemuan kami seperti pertemuan kedua pemeran utama dalam komik serial cantik. Tidak ada debaran-debaran kecil di dada ataupun letupan-letupan sayap kupu-kupu yang bersemayam di dalam perut. Hanya ada rasa malu dan keharusan. Bukan sekali itu saja saya menjalani prosesi perjodohan dan entah sejak kapan saya menjadi "kebal" akan apapun yang mungkin terjadi setelahnya.
Perkenalan dan percakapan ringan yang diakhiri dengan saling tukar No.Hp untuk berkirim pesan selalu terjadi dipertemuan pertama, yang membedakan hanya pesan seperti apa yang dikirimkan, berapa lama ia bertahan, dan seberapa besar keseriusannya terlihat. Dan saya tidak ingin membohongi hati kecil saya, sebagai wanita tentunya saya juga memiliki daftar kriteria panjang untuk suami sekaligus imam dalam keluarga kecil saya kelak yang walaupun seiring dengan bertambahnya umur daftar itu terus dan terus menyusut hingga tiga yang utama, Satu Keturunan, Menjaga Shalat, dan memenuhi salah satu kriteria fisik yang menjanjikan keturunan yang baik.
Memiliki ketiga kriteria tersebut membuat saya semakin mudah mengenalnya, dan setiap tanda yang muncul seolah-olah menjawab pertanyaan-pertanyaan yang saya ajukan dalam shalat kepada Allah SWT. Sampai suatu ketika, ia pun menghilang dengan meninggalkan jejak dan kembali dengan pertanyaan yang untuk pertama kalinya saya dengar ditengah kebimbangannya sendiri. Ia menjadi orang pertama yang mengambil jalan itu.
Singkat cerita, dengannya-lah saya menjalani tahapan terjauh dari sebuah perjodohan singkat. Pengertian akan status saya sebagai seorang pegawai dan mahasiswa, desakan dan izin dari keluarga yang saya minta untuk dipenuhinya, hingga pertemuan dua keluarga dalam sebuah prosesi lamaran berlangsung kurang dari sebulan, dan setelahnya selama tiga bulan kedepan saya sudah tidak bisa lagi memikirkan siap-tidak siap, cocok-tidak cocok atau mampu-tidak mampu karena disibukkan persiapan resepsi pernikahan saya sendiri.
Akhir kata, dengan bekal untuk beribadah kepada Allah SWT dan menjalankan sunnah Rasulullah SAW, saya memantapkan dan meyakinkan diri untuk melangsungkan pernikahan pada 19 Oktober 2014. Dan kini status saya bertambah yakni menjadi seorang istri, anak, kakak, sekaligus pegawai dan mahasiswa. Semoga jalan yang saya tempuh ini selalu mendapat ridha Allah SWT dan sekali lagi mendapatkan izin-Nya untuk mendapatkan status baru, seorang ibu.


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...