29 January 2016

Keinginan Mamah

Orang tua mana yang tidak menginginkan buah hatinya tumbuh dengan normal, sehat dan berprestasi dunia akhirat?
Semenjak dalam kandungan hingga lahir tumbuh kembang Ucen menjadi perhatian utama saya.
Mencoba untuk tidak ambil pusing pembicaraan orang mengenai ASIP yang saya kumpulkan sejak Ucen berumur 40 hari, melewati setiap perdebatan mengenai biaya imunisasi yang tidak murah karena saya memilih dokter spesialis anak di RS swasta bukan puskesmas/posyandu, bersikeras tidak memberikan asupan makanan-minuman selain ASI sebelum Ucen berumur 6 bulan, bahkan hampir setiap hari saya masih mencoba meyakinkan mamah sebagai ibu kedua sekaligus jidah Ucen untuk tidak memberi gula-garam ataupun susu sekalipun terdapat pada biskuit/bubur bayi instan. Semua itu saya lakukan demi Ucen dan Alhamdulillah sampai saat ini semua berjalan lancar.
Kuncinya memang pembicaraan yang baik, siapapun (kecuali orang keras kepala) pasti mengerti jika diberikan penjelasan mana yang baik dan dianjurkan para ahli dan mana yang tidak.
Jaman berubah, begitu juga banyak hal. Tidak semua saran orang tua jaman dulu itu salah namun ada beberapa yang jika diterapkan di jaman sekarang kurang cocok bahkan bisa fatal jika diterapkan.
Saya melewati banyak hal untuk mendapatkan Ucen dan saya tidak mau karena satu kesalahan usaha saya menjadi sia-sia. Ucen adalah penentu kelulusan saya, dan saya ingin nilai yang memuaskan di hadapan Allah nanti karena berhasil menjaga amanahnya dengan baik. Ucen juga menjadi penentu apakah saya berhak atau tidak memiliki Ijazah Ibu dimata para manusia sementara buat saya pribadi melihat Ucen sehat, riang, baik, pintar merupakan kebahagiaan dan kepuasan tersendiri. Semoga Ucen menjadi rezeki yang memberikan keberkahan untuk semua.

27 January 2016

Ibu Paruh Waktu

Yang masih suka banding-bandingin ibu di rumah sama ibu di tempat kerja pastinya bukan ibu-ibu karena kalau ibu-ibu pasti tau keadaan yang sebenernya & ibu-ibu juga manusia, punya rasa punya hati, jangan samakan dengan terasi (loh).
Kalau saya ditanya termasuk yang mana maka jawabannya saya ibu rumahan yang kebetulan (baca: terpaksa) ada di tempat kerja. Ibu mana sih yang kalau tidak dipaksa keadaan bisa ninggalin buah hatinya di rumah. Rasa-rasanya engga ada deh. Mau yang pendidikannya level sd sampe s3 juga kalo ditanya mau di rumah apa di tempat kerja ya pasti jawabannya pengen di rumah keleus.
MA-SA-LAH-NYA di dunia ini buat hidup itu ada harganya. Bukan cuma hal dasar macam makan, minum, tidur & buang hajat aja tapi hal-hal yang sifatnya pribadi kayak harkat, martabat & drajat semua dikasi label harga.
Jadilah kami-kami, para ibu yang ingin mengabdi sepenuhnya untuk suami dan buah hati tercinta harus berada di tempat kerja. Alasannya simple, untuk hidup.
Jangan bilang saya tidak beriman, ini bentuk ikhtiar saya. Karena rezeki manusia datangnya dari Allah tapi kalau mau ya musti di jemput. Nah ini cara saya menjemputnya.
Terus gimana dengan ibu-ibu yang rezekinya sudah diantarkan tapi masih di tempat kerja? Mungkin karena label harga itu tadi.
Pesan saya buat yang masih suka membanding-bandingkan: Ingat! kalian pun punya label harga. Semakin sering kalian membuat hati para ibu tersakiti semakin rendah harga kalian. Tanpa perlu kalian ingatkan kami tau label "ibu" yang kami punya adalah untuk buah hati kami dan kami-kami yang di tempat kerja ini-lah yang tau bagaimana sesaknya memikul label tersebut karena selalu di beri label tambahan ibu paruh waktu.

18 January 2016

Ngemall Pertama

Di usia delapan minggu tepatnya tanggal 5 September 2015 Ucen pergi ke mall dalam rangka Cukur Rambut, dua mall langsung dijelajahi karena emaknya alias saya sendiri miss informasi soal salon anak. Awalnya kami ke Penvil mengingat lokasinya yang tidak terlalu jauh dari rumah tapi ternyata informasi yang saya dapat sudah tidak update, alhasil hampir semua salon di mall tersebut saya kelilingi hanya untuk memastikan bisa/tidak mereka mencukur rambut bayi. Beberapa mengaku bisa hanya saja mengingat alat yang dipakai dan usia Ucen sepertinya lebih aman ke salon khusus anak.
Jadilah kami pergi ke mall kedua, PIM. Disana saya langsung menuju salon karena saat itu Ucen masih tertidur, khawatir dia akan menangis dan benar saja saat namanya dipanggil dan prosesi cukur rambut dimulai Ucen menangis sejadi-jadinya mengeluarkan kata "Enggaaaaaaa" sampai-sampai seisi salon melihat dan tidak percaya saat yang didapati teriak adalah bayi.
Ya mau bagaimana lagi setelah mengeluarkan biaya yang cukup besar untuk resepsi pernikahan, dokter kandungan & persalinan saya dan suami belum sempat menabung untuk Aqiqah dua ekor kambing jadilah prosesi cukur rambut dilakukan di salon. Inshallah kalau ada rezeki dari Allah tahun depan saat Ucen menginjak satu tahun kami berencana melangsungkan acara tersebut. Aamiin ^^

11 January 2016

Awal Kebahagiaan

Bagi seorang ibu merupakan kebanggaan dan kesenangan tersendiri melihat anaknya tumbuh dengan baik dan sehat begitu juga saya. Rasanya saat melihat perkembangan Ucen rasa lelah dan frustasi sedikit-sedikit menjadi berkurang.
Walaupun pada awalnya saya mengkhawatirkan berat badan Ucen yang menurut saya kecil dan sempat turun 0.2 di minggu pertama, Alhamdulillah setiap kunjungan ke dokter untuk imunisasi kenaikan bb nya nampak signifikan dan sesuai grafik.
Saya termasuk tipe ibu yang ingin sehala sesuatu buat anaknya sempurna dan terbaik, terutama dalam hal kesehatan. Tidak mau sembarang dokter, sembarang tempat, dan sembarang obat jadilah biaya yang dikeluarkan untuk Ucen juga tidak sembarangan.
Terkadang saya dan suami tidak satu pemikiran mengenai Ucen tapi dia tau bagaimana saya, jika menurut saya itu yang terbaik (pada akhirnya) dia akan mengalah.
Itulah pernikahan, ada kalanya saya juga mengalah namun sepertinya bukan saat Ucen topiknya dan semoga pilihan saya selalu tepat.

Lebaran Idul Fitri Pertama

Beberapa hari setelah Ucen lahir kami dihadapkan dengan hari Lebaran Idul Fitri 1436 H. Saya, seorang ibu baru yang belum terbiasa dengan jadwal tidur, menyusui, ganti popok dan juga belum terbiasa dengan rasa sakit jahitan pasca melahirkan normal, selama dua hari menghabiskan waktu bercengkrama dengan saudara-saudara dari pihak suami dan pihak saya.
Susah payah menahan diri akhirnya semua rasa frustasi, lelah dan sakit tumpah. Mereka bilang saya terkena baby blues syndrome karena hampir seminggu penuh saya menjadi sangat sensitive dan hampir selalu ingin menangis. Untunglah ada mamah, aziz dan suami yang selalu siap saat dibutuhkan walaupun terkadang ikut membuat frustasi, itu semua adalah awalnya dan ada saatnya masa itu terlewati dengan sendirinya.

Muhammad Husein Banahsan

Alhamdulillah saya dan suami termasuk pasangan yang cepat memperoleh rezeki Allah. Tidak sampai satu bulan pernikahan kami hasil pengecekan sudah menyatakan saya positif hamil. Walaupun saat dokter periksa ia belum terlihat dirahim dua minggu setelahnya sang calon raja kecil mulai terlihat seperti kelereng yang menempel pada tempatnya.
Selalu merasa tidak sabar untuk bertemu dengannya disetiap kunjungan hingga dokter menyatakan ada yang aneh dengan perkembanganya dan meminta kami melalukan pemeriksaan lebih detail dengan teknologi 4D untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan.
Untunglah kami mengikuti saran sang dokter karena ternyata keanehan justru terdapat pada saya bukan padanya. Dokter mendiagnosa saya memiliki  pembukaan kanalis servikalis 5mm dan inkompetens serviks dengan panjang serviks 27 mm.
Dokter menyarankan saya menjalankan cervical cerclage untuk menutup jalan lahir karena padatnya aktivitas saat itu membuat saya sering mengalami pendarahan kecil.
Singkat cerita untuk mempertahankan calon raja kecil kami saya menjalankan semua yang disarankan oleh dokter termasuk suntik penguatan paru dan infus untuk menambah cairan ketuban saat kandungan sudah memasuki trismester akhir.
Hal tersebut saya lakukan demi menjaga kesehatannya karena kekentalan darah dalam tubuh saya membuat aliran nutrisi untuknya tersumbat.
Dan Alhamdulillah tepat 6 bulan lalu, pada tanggal 11 Juli 2015 sang raja kecil lahir kedunia dengan berat 2.6 kg & panjang 47 cm bernama Muhammad Husein Banahsan.
Muhammad diambil dari nama manusia teragung sepanjang masa, Baginda Rasulullah.
Husein nama kesayangan yang saya pilih sendiri sekaligus nama cucu Baginda.
Dan Banahsan adalah Fam (marga) suami tercinta.
Begitulah rangkaian nama sang raja yang mempunyai panggilan "Ucen ".
Awalnya kami, saya dan suami sempat memperdebatkan nama panggilan namun saat melihat saya kesakitan sebelum persalinan ia menyerah dan (sekali lagi) saya menang.
Persalinan saya tidak bisa dibilang normal sepenuhnya, karena pembukaan cerclage dan masalah ketuban dokter memajukan jadwal persalinan dengan cara induksi menjadi seminggu sebelum lebaran Idul Fitri 1436H, 11 Juli 2015.
Dan pada tanggal tersebut setelah mengurus serangkaian administrasi tepat jam 12 siang saya memasuki ruang persiapan persalinan atau yang biasa disebut ruang observasi.
Pada jam 1 obat pertama dimasukkan, bukan lewat infus melainkan lewat jalur bawah. Sambil menunggu waktu pengecekan dengan santai saya berjalan-jalan hingga jam 5 sore karena yang terasa hanyalah mulas biasa.
Jam 6 sore obat kedua kembali dimasukkan, barulah tidak lama setelahnya kontraksi terasa nyata.
Rasa sakit akibat dorongan sang raja kecil yang menurut bidan sedang mencari jalan keluar terasa semakin kuat setiap waktu dan semakin cepat. Hingga pada jam 9 malam saya sudah merasa sangat kesakitan karena terus menerus ingin mengejan dan rasanya tidak akan tahan menunggu Jam 10 malam untuk pengecekan.
Untunglah bidan menanggapi kecerewetan saya karena saat dilakukan pengecekan di jam setengah 10 malam kepala sang raja kecil sudah hampir keluar.
Saya diminta untuk menunggu hingga dokter tiba tapi saya sudah tidak bisa bahkan saya setengah berlari menuju ruang persalinan. Dibantu bidan ia lahir, tanpa kendala dan hanya dengan sekali tarikan nafas.
Rasa haru, senang, lega, sakit, khawatir, sayang, bangga dan sebagainya semua bercampur jadi satu. Inilah hasilnya dari sebuah penantian.

04 January 2016

2016

Hidup tanpa tujuan itu kayak sepatu #FLAT, katanya sih kurang menantang untuk di buat jalan gak kayak #HiGHHEEL. Jadilah setiap awal taun banyak yang me-resolusikan sesuatu supaya ada tujuan hidup kedepannya & gak cuma luntang lantung kayak kantong kresek ketiup angin.
Begitu juga blog ini yang entah udah berapa lama dan beberapa kali ditinggal sesuka hati. Dimasukin berbagai macam hal dari kelas teri sampe kakap (Ya namanya juga kantong kresek). Rasa-rasanya banyak yang harus dibenahin supaya jadi lebih menantang.
Tapi, karena belum ada waktu buat beberes gak apa-apa lah ya sementara waktu catatan ini di-isi info terupdate lewat aplikasi hp dulu (Serasa artis).
Dan buat bocoran aja nih ya, mulai tahun ini yang pasti blog ini bakal dipenuhin sama cerita si raja kecil karena sang putri punya resolusi bikin jurnal perkembangan sang raja tapi males beli buku jurnal.
See you soon ♡
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...